Selasa, 11 Agustus 2026 – 22:30 WIB
Riau, VIVA – Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) atau Task Force DPP Partai Hanura, Patrice Rio Capella menyatakan partainya mengusulkan perubahan sistem Pemilu Legislatif menjadi sistem kombinasi antara proporsional tertutup dan terbuka.
Rio mengatakan, proporsional terbuka selama ini berpotensi membuat kader yang gigih membesarkan partai tersingkir oleh calon yang memiliki kekuatan finansial lebih besar.
“Pemilu itu seharusnya setiap masanya meningkatkan kualitas dari isi Pemilu itu sendiri. Kita berharap pada Pemilu 2029 ini kualitas DPR, DPRD tingkat 1 dan tingkat 2 juga mulai meningkat,” kata Rio saat ditemui dalam kegiatan konsolidasi Partai Hanura di Batam, Kepulauan Riau, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.
Rio mengatakan, selama ini sistem proporsional terbuka cenderung membuat kontestasi Pemilu seperti pasar bebas.
“Orang yang bagus, nomor satu, aktivis di partai, mungkin bawahannya oke, hanya kalah pada modal atau kapital. Sehingga tersingkir dan dimenangkan oleh orang yang tidak mengikuti proses berpartai dan mengembangkan partainya sama sekali,” kata Rio.
Karena itu, Rio menilai perlu ada peran partai politik dalam menentukan caleg yang dinilai berkualitas. Namun, ia tidak ingin mekanisme tersebut sepenuhnya menutup ruang bagi caleg untuk memperoleh kursi berdasarkan perolehan suara.
Hanura, sambung Rio, mendukung sistem kombinasi atau setengah terbuka. Dalam skema tersebut, partai memiliki kewenangan menempatkan kader unggul pada nomor urut tertentu. Sementara, perolehan suara tetap menjadi pertimbangan untuk mendapatkan kursi berikutnya.
“Kalau misalnya satu partai mendapatkan dua kursi, maka kursi pertama diserahkan kepada urutan nomor satu, kursi berikutnya ditentukan oleh suara terbanyak,” jelasnya.
Menurut Rio, mekanisme tersebut akan memberikan penghargaan kepada partai, sekaligus tetap memberikan kesempatan kepada caleg untuk berkompetisi mendapatkan suara.
“Kalau cuma dapat satu kursi, maka diserahkan kepada orang yang diusulkan oleh partainya pada urut nomor satu. Sehingga, ada penghargaan dan membudayakan agar orang itu menjadi caleg dengan cara membesarkan partainya dulu,” tambah Wakil Ketua Umum Hanura itu.
Dia juga menilai mekanisme kombinasi juga dapat mendorong kader untuk konsisten membangun partai. Bukan berpindah-pindah partai hanya karena memiliki modal besar.
Halaman Selanjutnya
“Jangan kemudian dia bisa pindah-pindah antarpartai politik hanya dengan mengandalkan uang yang banyak. Saya pikir itu juga bikin demokrasi kita kurang sehat,” tegasnya.






