Kamis, 20 Agustus 2026 – 15:41 WIB
Jakarta, VIVA – Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk Pratomo Soedarsono mengungkapkan, membangun bank digital bukan hanya soal teknologi. Di belakang produk dan layanan yang serba digital, ada orang-orang yang harus terus belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan ketika kebutuhan nasabah berubah.
Menurut dia hal tersebut menjadi penting mengingat sekarang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke berbagai pekerjaan yang mungkin saja menggantikan peran manusia.
“Di Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberi saran, tapi keputusan tetap di tangan manusia. Jadi, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna,” ujar Tommy saat berdiskusi dengan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) di Universitas Indonesia, dikutip dari keterangannya, Kamis, 20 agustus 2026.
Pria yang sehari-hari akrab disapa Tommy itu berbagi pandangan tentang cara Bank Jago memanfaatkan AI sekaligus menyiapkan organisasi dan talenta yang siap menghadapi perubahan di industri perbankan.
Sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago menempatkan AI sebagai alat pendamping digital yang membantu pekerjaan rutin. Dengan begitu, waktu dan perhatian karyawan dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman terhadap nasabah, penyelesaian persoalan, hingga pengembangan anggota tim.
Cara kerja di dalam organisasi pun ikut disesuaikan. Para Jagoan, sebutan bagi karyawan Bank Jago, mendapat ruang lebih besar untuk mengambil keputusan. Tim memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu keputusan dari jenjang yang lebih tinggi.
Bank yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital, lanjut Tommy, membutuhkan pola kerja seperti ini karena pengembangan produk dan layanan melibatkan banyak fungsi. Kelincahan dalam pengambilan keputusan menjadi penting agar organisasi dapat merespons kebutuhan nasabah dan perubahan pasar dengan cepat.
¨Namun ruang untuk mengambil keputusan perlu diikuti kemampuan yang terus berkembang. Untuk itu kami mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan untuk melihat kemampuannya sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat,” jelas Tommy.






