Nasional

Insentif Dapur MBG Rp2.000, Sudaryono: Tidak Bisa Untung Besar!

×

Insentif Dapur MBG Rp2.000, Sudaryono: Tidak Bisa Untung Besar!

Sebarkan artikel ini


Selasa, 6 Oktober 2026 – 02:42 WIB

Jakarta, VIVA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan komitmen BGN dalam memastikan setiap rupiah anggaran negara dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikelola secara efisien, tepat guna, dan dikonversikan secara optimal menjadi makanan bergizi bagi penerima manfaat.


img_title


BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 60 SPPG, Sudaryono: Makanan Lebih Enak, karena Masih Hangat

Sudaryono mengatakan, penataan skema insentif bagi mitra penyelenggara MBG dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip efisiensi, keadilan, dan proporsionalitas. Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan agar penggunaan anggaran negara tetap akuntabel sekaligus memberikan kepastian usaha yang wajar bagi para mitra.

“Intinya adalah efisiensi, kemudian keadilan, di dalamnya lebih adil, proporsional. Yang jelas kita ingin bahwa setiap APBN, anggaran itu dikelola dengan benar, dikonversi menjadi MBG dengan benar,” ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, pada Senin (5/10/2026)


img_title


Sudaryono Ungkap 1.100 Dapur MBG Tak Bisa Beroperasi, Ini Alasannya!

Dia menjelaskan, skema insentif perlu dirancang secara proporsional dengan mempertimbangkan kapasitas dapur, jumlah penerima manfaat, serta besaran investasi yang dikeluarkan oleh masing-masing mitra. Dengan demikian, tidak terjadi pembayaran yang berlebihan ketika kapasitas penerima manfaat suatu dapur tidak sebanding dengan besaran insentif yang diterima.

“Dengan insentif Rp2000, ini artinya ada jaminan keuntungan. Tidak bisa untung besar, tapi tidak rugi. Tidak bisa untung besar sekali, tidak bisa, tidak boleh,” katanya.


img_title


Misteri Logo BNPB pada Pesawat yang Disita Dalam Kasus MBG Klaster Mobil Listrik Akhirnya Terjawab, Begini Faktanya

Menurutnya, karakter MBG berbeda dengan kegiatan usaha yang mengandalkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Program ini merupakan layanan rutin dengan aktivitas yang berlangsung setiap hari, sehingga keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan kemitraan.

“MBG ini kalau semacam kegiatan utilitas. Utilitas itu rutin, harian, tapi kemudian pengembaliannya atau untungnya tidak gede,” tutur Mas Dar.

Ia menegaskan, BGN tetap menghargai investasi yang telah dikeluarkan para mitra untuk mendukung penyelenggaraan MBG. Namun, hubungan kemitraan harus berjalan dalam koridor yang sehat dan berkeadilan, sehingga kepentingan mitra tetap diperhatikan tanpa mengesampingkan tanggung jawab negara dalam mengelola uang publik.

“Saya sebagai Kepala Badan, saya komit, kita berlaku adil. Intinya mitra ini adalah mitra. Dia sudah keluar biaya, dia sudah bangun dapur. Kami pastikan bahwa kami memperlakukan mitra itu sebagai mitra. Cuman memang itu tadi, tidak bisa, tidak mungkin rugi, tapi tidak bisa untung gede-gedean,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya

Selain aspek pembiayaan, BGN juga melakukan penataan data penerima manfaat untuk memastikan pelayanan MBG benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Data penerima manfaat terus diperbarui agar jumlah makanan yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai dengan jumlah penerima yang sebenarnya.

Halaman Selanjutnya





Source link