Jumat, 9 Oktober 2026 – 02:35 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan social commerce ikut mengubah cara perempuan Indonesia mencari dan membeli pakaian. Jika sebelumnya konsumen lebih banyak mengandalkan toko fisik atau marketplace, kini media sosial menjadi salah satu ruang untuk menemukan inspirasi fashion sekaligus mempertimbangkan produk yang ingin dibeli.
Perubahan tersebut juga membuat konsumen semakin selektif. Selain desain yang mengikuti tren, kenyamanan, karakter motif, harga, hingga kesesuaian antara informasi produk dan barang yang diterima menjadi pertimbangan sebelum melakukan pembelian.
Tren ini turut terlihat pada fashion perempuan, terutama untuk pakaian yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Model yang nyaman, memiliki potongan longgar, tetapi tetap terlihat modis menjadi salah satu pilihan yang banyak dicari.
Kondisi tersebut membuat material pakaian juga mendapat perhatian. Rayon, misalnya, menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam koleksi pakaian sehari-hari karena karakter kainnya yang ringan dan nyaman digunakan.
Perubahan pola konsumsi sekaligus mendorong pelaku usaha fashion lokal untuk lebih jeli membaca kebutuhan konsumen. Keishop 392, brand asal Jakarta yang berdiri pada 2020, menjadi salah satu pelaku usaha yang berkembang di tengah perubahan tersebut.
Brand tersebut pada awalnya menjalankan aktivitas perdagangan grosir pakaian sebelum kemudian beralih mengembangkan bisnis ritel secara mandiri. Perubahan itu dilakukan ketika perilaku konsumen dan tren perdagangan digital mulai mengalami pergeseran.
![]()
Pendiri Keishop 392, Debby, mengatakan pengembangan produk tidak hanya dilakukan dengan mengikuti tren yang sudah ada. Ia memilih memberikan perhatian pada karakter motif dan kebutuhan konsumen agar pakaian yang dibuat memiliki pembeda.
“Kami tidak sekadar mengikuti tren yang sudah menjamur di pasaran, melainkan berfokus pada pengembangan motif yang memiliki ciri khas tersendiri agar konsumen mendapatkan pakaian yang unik, berkualitas, dan tetap terjangkau untuk segmentasi pasar menengah,” ujar Debby dalam keterangannya, dikutip Jumat (9/10/2026).
Bagi pelaku usaha fashion yang menyasar kebutuhan sehari-hari, memahami karakter konsumen menjadi bagian penting dalam mempertahankan bisnis. Pakaian dengan desain yang terlalu mengikuti tren dapat memiliki siklus penggunaan yang pendek, sementara konsumen sehari-hari cenderung membutuhkan produk yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, kehadiran social commerce juga membuat proses pemasaran mengalami perubahan. Produk fashion dapat ditemukan konsumen melalui konten digital, rekomendasi, maupun interaksi langsung di platform media sosial.






