Nasional

Scroll TikTok, Lihat Baju, Langsung Checkout? Begini Cara Social Commerce Mengubah Selera Fashion Perempuan

×

Scroll TikTok, Lihat Baju, Langsung Checkout? Begini Cara Social Commerce Mengubah Selera Fashion Perempuan

Sebarkan artikel ini


Jumat, 9 Oktober 2026 – 02:35 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan social commerce ikut mengubah cara perempuan Indonesia mencari dan membeli pakaian. Jika sebelumnya konsumen lebih banyak mengandalkan toko fisik atau marketplace, kini media sosial menjadi salah satu ruang untuk menemukan inspirasi fashion sekaligus mempertimbangkan produk yang ingin dibeli.


img_title


Dari Jahit Manual ke Produksi Teknologi Pintar, Ini Perjalanan Panjang Industri Pakaian

Perubahan tersebut juga membuat konsumen semakin selektif. Selain desain yang mengikuti tren, kenyamanan, karakter motif, harga, hingga kesesuaian antara informasi produk dan barang yang diterima menjadi pertimbangan sebelum melakukan pembelian.

Tren ini turut terlihat pada fashion perempuan, terutama untuk pakaian yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Model yang nyaman, memiliki potongan longgar, tetapi tetap terlihat modis menjadi salah satu pilihan yang banyak dicari.


img_title


TNI Pamerkan Pakaian Dinas Upacara Baru di HUT ke-81, Intip Modelnya

Kondisi tersebut membuat material pakaian juga mendapat perhatian. Rayon, misalnya, menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam koleksi pakaian sehari-hari karena karakter kainnya yang ringan dan nyaman digunakan.

Perubahan pola konsumsi sekaligus mendorong pelaku usaha fashion lokal untuk lebih jeli membaca kebutuhan konsumen. Keishop 392, brand asal Jakarta yang berdiri pada 2020, menjadi salah satu pelaku usaha yang berkembang di tengah perubahan tersebut.


img_title


Di Balik Sehelai Hijab, Ada Perubahan Cara Perempuan Menjalani Hari

Brand tersebut pada awalnya menjalankan aktivitas perdagangan grosir pakaian sebelum kemudian beralih mengembangkan bisnis ritel secara mandiri. Perubahan itu dilakukan ketika perilaku konsumen dan tren perdagangan digital mulai mengalami pergeseran.

Pendiri Keishop 392, Debby, mengatakan pengembangan produk tidak hanya dilakukan dengan mengikuti tren yang sudah ada. Ia memilih memberikan perhatian pada karakter motif dan kebutuhan konsumen agar pakaian yang dibuat memiliki pembeda.

“Kami tidak sekadar mengikuti tren yang sudah menjamur di pasaran, melainkan berfokus pada pengembangan motif yang memiliki ciri khas tersendiri agar konsumen mendapatkan pakaian yang unik, berkualitas, dan tetap terjangkau untuk segmentasi pasar menengah,” ujar Debby dalam keterangannya, dikutip Jumat (9/10/2026).

Bagi pelaku usaha fashion yang menyasar kebutuhan sehari-hari, memahami karakter konsumen menjadi bagian penting dalam mempertahankan bisnis. Pakaian dengan desain yang terlalu mengikuti tren dapat memiliki siklus penggunaan yang pendek, sementara konsumen sehari-hari cenderung membutuhkan produk yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, kehadiran social commerce juga membuat proses pemasaran mengalami perubahan. Produk fashion dapat ditemukan konsumen melalui konten digital, rekomendasi, maupun interaksi langsung di platform media sosial.

Halaman Selanjutnya





Source link