Kamis, 29 Oktober 2026 – 10:40 WIB
Jakarta, VIVA – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (28/10/2026). Keputusan ini diambil ketika inflasi masih tinggi dan bank sentral membutuhkan lebih banyak data untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember.
Melansir dari Reuters, Kamis (29/10/2026), The Fed mempertahankan suku bunga dalam kisaran 3,75–4 persen, sesuai ekspektasi pasar. Dalam pernyataan terbarunya, bank sentral menyebut inflasi masih “tetap tinggi”, tetapi menilai perekonomian AS tumbuh dengan “laju yang kuat”.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, pihaknya masih yakin inflasi dapat diturunkan menuju target 2 persen tanpa harus menghambat pertumbuhan ekonomi atau meningkatkan pengangguran.
“Perekonomian bergerak ke arah yang benar. Apakah perekonomian tumbuh terlalu panas? Apakah perekonomian tumbuh terlalu kuat? Itu bukan penilaian sebagian besar rekan saya,” kata Warsh.
Ia berpendapat perubahan produktivitas, termasuk yang telah terjadi sebelum ledakan kecerdasan buatan (AI), dapat memungkinkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat tanpa memicu inflasi sebesar yang dikhawatirkan.
“Tujuannya, menurut pandangan saya, bukanlah menghambat roda perekonomian dan membuat orang kehilangan pekerjaan. Saya tidak berpikir kita harus melakukan itu,” ujarnya.
Warsh mengatakan, suku bunga yang lebih tinggi sudah berdampak pada pengetatan kondisi kredit. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat investasi bisnis dan belanja rumah tangga berpendapatan tinggi, sehingga turut meredam tekanan inflasi.
Meski demikian, pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) membuka peluang penyesuaian kebijakan berikutnya setelah memperoleh informasi tambahan.
“Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen Komite secara tepat waktu,” demikian pernyataan FOMC. “Komite akan mewujudkan stabilitas harga.”
Dua pejabat The Fed, yakni Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack, berbeda pendapat. Keduanya menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase. Cook tercatat menyampaikan perbedaan pendapat untuk pertama kalinya dalam keputusan kebijakan moneter bank sentral.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah tetap percaya Warsh akan menemukan keseimbangan yang tepat antara target inflasi 2 persen dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Michael Pearce, kepala ekonom AS di Oxford Economics, menilai faktor yang membuat The Fed cenderung mempertahankan kebijakan ketat belum mereda.
Halaman Selanjutnya
Harga energi yang tinggi menjadi perhatian karena memengaruhi biaya pengiriman dan pertanian. Inflasi serta biaya hidup juga menjadi isu utama menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.






