Nasional

Analis Sebut KPK Bisa Perluas Penyidikan di Kasus Bea Cukai

×

Analis Sebut KPK Bisa Perluas Penyidikan di Kasus Bea Cukai

Sebarkan artikel ini


Minggu, 7 Juni 2026 – 22:00 WIB

Jakarta, VIVA – Fakta baru mencuat dalam persidangan kasus dugaan suap dan gratifikasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). 


img_title


Analis Proyeksi IHSG Jebol ke Level 6.000, Cek 5 Saham Potensial Cuan Hari Ini

Selain Blueray Cargo, perusahaan lain bernama PT Infinity International disebut turut melakukan setoran rutin kepada oknum pejabat Bea Cukai.

Temuan tersebut membuat sejumlah pihak mempertanyakan arah penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hingga kini masih berfokus pada perkara yang melibatkan Blue Ray.


img_title


Rupiah Melemah Jadi Rp17.728 per Dolar AS, Analis Sebut karena Euforia Ini

Analis kontra intelijen, R. Gautama Wiranegara, menilai fakta-fakta yang muncul di persidangan justru menunjukkan peta perkara yang lebih luas dari yang selama ini terungkap ke publik.

“Persidangan sudah menunjukkan bahwa BlueRay bukan satu-satunya pemberi. Ada PT Infinity yang memberi setoran rutin. Ada pengusaha rokok. Mengapa KPK masih saja fokus pada satu warna? Ini peta yang mulai terang, jangan dibiarkan gelap,” kata Gautama dalam keterangannya, dikutip Minggu, 7 Juni 2026.


img_title


IHSG Diprediksi Anjlok ke 5.900 akibat Tekanan Jual, Cek 5 Saham Potensial Cuan Pilihan Analis

Fakta tersebut terungkap dari kesaksian Antonius Sidauruk, mantan karyawan PT Infinity International milik Ali Susanto alias Ali Medan. 

Di hadapan majelis hakim, Antonius mengaku setiap bulan terdapat aliran dana dari PT Infinity kepada Kasi Intelijen DJBC saat itu, Orlando Hamonangan.

Menurut Antonius, uang tersebut disalurkan melalui sejumlah perantara, yakni Arif, Rudi, dan Susi. Bahkan ia mengaku direkomendasikan langsung oleh Orlando untuk bekerja di PT Infinity sejak 2021.

Tak hanya itu, Antonius juga mengungkap bahwa pada Maret 2025 dirinya diminta menyewa apartemen atas namanya sendiri yang disebut akan digunakan Orlando setelah bertugas di kantor pusat DJBC Jakarta.

Fakta lain yang turut menjadi sorotan adalah data penjaluran barang. Berdasarkan tabel intelijen yang sebelumnya dipaparkan saksi Fillar Marindra, rata-rata jalur merah PT Infinity disebut berada di bawah 30 persen. 

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Blue Ray yang dalam sejumlah persidangan terungkap mengalami jalur merah hingga 80 sampai 90 persen.

Antonius mengaku selama menangani proses clearance impor di PT Infinity, aktivitas perusahaan berjalan relatif lancar tanpa hambatan berarti. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai korelasi antara pemberian uang dengan perlakuan kepabeanan yang diterima masing-masing perusahaan.

Halaman Selanjutnya

Persidangan juga menghadirkan Sri Pangestuti alias Tuti, pengusaha importir jalur udara. Dalam keterangannya, Tuti mengaku pernah mendapat ancaman bahwa jalur impor melalui udara akan terus dimerahkan apabila tidak bergabung dengan kelompok tertentu.

Halaman Selanjutnya





Source link