Nasional

Mobil Elektrifikasi Toyota Bakal Makin “Indonesia”

×

Mobil Elektrifikasi Toyota Bakal Makin “Indonesia”

Sebarkan artikel ini


Jumat, 31 Juli 2026 – 13:55 WIB

Tangerang Selatan, VIVA – Toyota membuka peluang untuk meningkatkan kandungan lokal pada jajaran mobil elektrifikasinya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan seiring target pemerintah yang mendorong tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan elektrifikasi mencapai 60 persen.


img_title


55 Tahun Toyota Ada di Indonesia: Dampingi Kebutuhan Pelanggan lewat Land Cruiser Family dan bZ4X Touring di GIIAS 2026

President Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengatakan perusahaan akan mengikuti kebijakan pemerintah terkait peningkatan TKDN. Untuk mewujudkannya, Toyota akan berdiskusi dengan prinsipal mengenai komponen apa saja yang bisa diproduksi di dalam negeri.

“Kalau pemerintah memutuskan seperti itu, tentu kita akan ikuti. Sehingga kita berbicara dengan headquarter apa yang bisa kita lokalisasi untuk mencapai itu,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif di GIIAS 2026, Jumat 31 Juli 2026.


img_title


Honda Cuma Jual 100 Unit Super-One di Indonesia

Saat ini, rata-rata TKDN kendaraan elektrifikasi Toyota berada di kisaran 40 persen. Menurut Nandi, perusahaan tengah mengkaji berbagai langkah agar angka tersebut dapat ditingkatkan sesuai target yang ditetapkan pemerintah.

Ia menjelaskan, proses lokalisasi tidak hanya bergantung pada kesiapan pabrikan, tetapi juga harus mempertimbangkan skala ekonomi. Semakin besar volume produksi, semakin besar pula peluang suatu komponen diproduksi di Indonesia.


img_title


Terpopuler: Kia Seltos Baru, Toyota Bawa 3 Mobil ke GIIAS 2026, hingga Geely Coolray Resmi Dijual

“Selama volumenya bisa mencapai skala ekonomis, kita akan lakukan. Tapi kalau memang menjadi kebijakan pemerintah, tentu akan kita diskusikan bagaimana cara mencapainya,” katanya.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan Toyota adalah memproduksi battery cell di Indonesia. Menurut Nandi, pengembangan tersebut saat ini masih difokuskan untuk kendaraan hybrid karena volumenya sudah lebih besar dibanding mobil listrik berbasis baterai murni atau battery electric vehicle (BEV).

Ia menjelaskan bahwa pengalaman memproduksi battery cell untuk hybrid nantinya dapat menjadi modal ketika permintaan baterai untuk BEV meningkat. Dengan begitu, proses pengembangannya tidak perlu dimulai dari awal.

“Saat ini baterai itu adalah untuk hybrid karena skala volumenya sudah ekonomis. Kalau suatu saat dikembangkan menjadi baterai BEV, tentu akan lebih cepat dibanding memulai dari nol,” tuturnya.

Selain mendukung kebutuhan pasar domestik, peningkatan kandungan lokal juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri otomotif nasional. Nandi menilai Indonesia perlu terus memperkuat rantai pasok agar investasi yang sudah masuk dapat berkembang sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, lokalisasi bukan semata-mata bertujuan menekan biaya produksi. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari proses hilirisasi industri, di mana Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mulai memproduksi komponen bernilai tinggi untuk kendaraan elektrifikasi.

Halaman Selanjutnya





Source link