Selasa, 1 September 2026 – 20:14 WIB
Jakarta, VIVA – Transisi energi Indonesia sering dikaitkan dengan upaya mengurangi emisi karbon dan memperlambat perubahan iklim. Padahal, peralihan dari energi fosil menuju energi bersih juga menyangkut ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, kesiapan industri, hingga penciptaan lapangan kerja.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pemutaran perdana film dokumenter Energi Untuk Negeri yang digelar Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia bersama Media Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 1 September 2026. Film tersebut melihat transisi energi dari berbagai sudut pandang, termasuk pemerintah, akademisi, sektor keuangan, industri dan masyarakat.
Salah satu persoalan yang dihadapi Indonesia adalah ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Ketergantungan pada impor minyak membuat sistem energi nasional tidak hanya menghadapi persoalan emisi, tetapi juga risiko ketika harga energi global dan kondisi geopolitik mengalami perubahan.
Di sisi lain, batu bara masih memiliki peran besar dalam pembangkitan listrik Indonesia. Peralihan menuju energi terbarukan karena itu membutuhkan perubahan pada sistem energi secara bertahap, termasuk pembangunan pembangkit, jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, serta kemampuan industri dalam negeri.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengatakan transisi energi perlu dilihat dari dampaknya terhadap kepentingan nasional secara lebih luas.
“Transisi energi harus menjawab lima pertanyaan utama: apakah dapat memperkuat ketahanan energi nasional, mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen, berapa biaya yang dibutuhkan, apakah industri manufaktur dalam negeri siap, dan seberapa besar dampaknya dalam mengurangi jejak karbon kita,” ujarnya, dikutip Selasa 1 September 2026.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa energi bersih bukan hanya persoalan mengganti pembangkit berbahan bakar fosil dengan panel surya, pembangkit angin, panas bumi, atau sumber energi terbarukan lainnya. Indonesia juga perlu memastikan teknologi dan rantai pasok yang dibutuhkan dapat berkembang di dalam negeri.
Penguasaan teknologi menjadi penting karena transisi energi membutuhkan berbagai komponen baru. Panel surya, baterai, kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, jaringan listrik pintar, hingga teknologi pengelolaan energi membutuhkan kemampuan manufaktur dan sumber daya manusia yang sesuai.
![]()
Perubahan tersebut juga berpotensi menciptakan jenis pekerjaan baru. Namun, pekerja yang selama ini bergantung pada industri berbasis energi fosil perlu mendapatkan kesempatan reskilling dan upskilling agar dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri hijau.
Halaman Selanjutnya
Aspek pembiayaan menjadi tantangan lain. Direktur CPI Indonesia Tiza Mafira menilai sumber pembiayaan domestik perlu semakin berperan karena manfaat investasi transisi energi pada akhirnya dapat kembali ke perekonomian Indonesia.






