Nasional

Dikenalkan Teknologi Smart Solar Biomass Drye, Petani Pala di Papua Barat Kini Tak Bergantung Lagi pada Matahari

×

Dikenalkan Teknologi Smart Solar Biomass Drye, Petani Pala di Papua Barat Kini Tak Bergantung Lagi pada Matahari

Sebarkan artikel ini


Kamis, 24 September 2026 – 17:40 WIB

Jakarta, VIVA – Petani pala di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey, Papua Barat, kini mulai memanfaatkan inovasi Smart Solar Biomass Dryer yang diperkenalkan Tim Ekspedisi Patriot 15 Universitas Hasanuddin.


img_title


Kawal Aksi Petani di Gedung DPR, Sebanyak 448 Polisi Dikerahkan

Teknologi ini digadang jadi solusi bagi petani yang selama ini menghadapi kendala cuaca saat mengeringkan hasil panen.

Dengan alat ini, proses pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca dan tidak membutuhkan bahan bakar minyak.


img_title


Kementrans Dorong Teknologi Kedirgantaraan Buka Keterisolasian Kawasan Transmigrasi, Industrialisasi Dipercepat

“Terkait alat pengering, memang dibutuhkan adanya alat seperti ini yang mana kita tidak perlu khawatir dengan cuaca, misalnya hujan. Selain itu, untuk pengeringannya bisa menggunakan sampah di sekitar dan tidak memerlukan listrik, sehingga bisa digunakan di mana saja,” ujar Aher Samai, Ketua Kelompok Tani Rangkum, dikutip Kamis, 24 September 2026.

“Namun harapannya mesin pengering yang dibuat bisa memuat kapasitas lebih banyak sehingga dapat mengeringkan lebih banyak dan lebih cepat,” tambahnya.


img_title


Melonjak 12 Persen, Program Pestani Bikin Petani Nganjuk Panen Bawang Merah 20 Ton Per Hektare

Penggunaan alat pengering ini juga memangkas waktu pengolahan pala. Jika sebelumnya proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar tujuh hari, kini dapat diselesaikan dalam dua hari.

Suhu pengeringan dapat diatur stabil hingga 60 derajat Celsius. Kondisi tersebut membantu menjaga kualitas biji pala sekaligus mempertahankan nilai jual hasil panen. Dalam satu kali proses, alat tersebut mampu menampung hingga 1.000 biji pala.

“Kemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, tu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” ujar Michel Obrien, Perwakilan Tim TEP Universitas Hasanuddin, dalam keterangannya.

Pemanfaatan teknologi pertanian tersebut sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya modernisasi sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sementara itu, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya keberlanjutan dan aksi nyata Tim Ekspedisi Patriot setelah turun langsung ke lapangan.

“Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, visibel, dan masuk akal,” ujar Menko AHY saat kunjungan ke Jayapura beberapa waktu lalu, Kamis (17/9).

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut mendorong kemandirian dan inisiatif para pemuda dalam mencari solusi atas persoalan yang ditemukan di lapangan.

Halaman Selanjutnya

“Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif,” tegas Mentrans beberapa waktu lalu.

Halaman Selanjutnya





Source link