Senin, 28 September 2026 – 14:11 WIB
Surabaya, VIVA – Festival Ekonomi Syariah atau FESyar Regional Jawa 2026 kembali digelar di Jawa Timur dengan membawa misi memperkuat ekonomi dan keuangan syariah secara berkelanjutan. Bank Indonesia menilai festival ini bukan sekadar ajang pameran dan transaksi, tetapi juga menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha, perbankan, pemerintah, pesantren, hingga masyarakat.
FESyar Regional Jawa 2026 berlangsung pada 25-27 September 2026 di Grand City Convention and Exhibition, Surabaya. Kegiatan tersebut mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”
BI Soroti Potensi Besar Ekonomi Syariah Indonesia
![]()
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa FESyar Regional Jawa telah menjadi agenda tahunan yang digelar untuk ke-13 kalinya di Jawa Timur. Menurutnya, Jawa Timur memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi syariah sehingga FESyar Regional Jawa tetap diselenggarakan di wilayah tersebut.
Destry menjelaskan, FESyar awalnya berkembang dari Jawa Timur sebelum kemudian konsep ekonomi dan keuangan syariah diperluas ke tingkat nasional melalui Indonesia Sharia Economic and Financial Festival (ISEF).
Ia menilai ekonomi syariah memiliki peluang besar karena tidak hanya berkaitan dengan masyarakat muslim, tetapi juga menawarkan nilai yang bersifat universal.
“Jadi dalam hal ini kita lihat, kalau hanya kita bicara ekonomi keuangan syariah, maka potensinya memang kita melihat populasi muslim yang jumlahnya di dunia itu sekitar 2 miliar. Ini sangat luas sekali,” ujar Destry dalam sambutannya dalam opening FESyar Regional Jawa 2026 di Surabaya pada Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Destry, prinsip ekonomi syariah setidaknya memiliki tiga nilai penting, yakni inklusivitas, keberlanjutan atau sustainability, serta fairness.
“Yang pertama, dia harus inklusif. Dia harus bisa membuka ke semua segmen,” katanya.
Selain itu, ekonomi syariah juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan menciptakan hubungan ekonomi yang adil antara pihak-pihak yang terlibat.
Destry menyebut potensi industri halal global telah mencapai sekitar 2,6 triliun dolar AS berdasarkan data 2024. Indonesia sendiri masih berada di jajaran negara dengan ekosistem ekonomi syariah besar, meski terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Halaman Selanjutnya
“Jadi mari kita bersama-sama, mari kita mengembangkan ekonomi keuangan syariah kita ini, dengan melihat dengan lebih dunia besar lagi,” ujar Destry.





