Rabu, 7 Oktober 2026 – 17:08 WIB
Jakarta, VIVA – Perubahan teknologi mulai menggeser cara industri memproduksi barang dan mengelola jaringan manufaktur di berbagai negara. Pabrik kini tidak hanya mengandalkan mesin otomatis.
Perubahan tersebut membuat jaringan manufaktur global semakin bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengolah data dan merespons perubahan secara cepat. World Economic Forum (WEF), dikutip VIVA Rabu, (07/10/2026), dalam Intelligent Industrial Operations Outlook 2026 menyebut industri sedang bergerak dari otomatisasi tradisional menuju sistem yang lebih cerdas, terhubung dan semakin adaptif.
Perubahan ini bukan sekadar soal mengganti mesin lama dengan teknologi baru. Perusahaan mulai menghubungkan proses perencanaan, produksi, logistik dan pengambilan keputusan dalam satu ekosistem digital.
Salah satu perubahan terbesar terlihat dari meningkatnya penggunaan AI di lingkungan manufaktur. Teknologi ini mulai digunakan untuk membantu memprediksi kebutuhan produksi, mengoptimalkan proses, mendeteksi masalah hingga meningkatkan efisiensi rantai pasok.
WEF mencatat bahwa AI kini bergerak dari sekadar proyek percobaan menjadi kemampuan inti operasional pada perusahaan manufaktur terdepan. Transformasi tersebut juga mendorong kerja sama yang lebih erat antara manusia dan mesin.
Global Lighthouse Network milik WEF bahkan telah mencakup 238 lokasi industri yang menerapkan teknologi manufaktur canggih. Berbagai fasilitas tersebut menggunakan kombinasi AI, robotika, cloud computing dan big data untuk meningkatkan produktivitas, ketahanan rantai pasok serta keberlanjutan.
Artinya, pabrik masa depan tidak hanya dituntut mampu memproduksi lebih banyak barang, tetapi juga harus bisa membaca perubahan dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Perubahan juga terjadi di luar area pabrik. Jaringan pemasok, gudang, transportasi dan distribusi mulai membutuhkan sistem digital yang mampu berkomunikasi satu sama lain.
Digitalisasi juga dapat membantu perusahaan meningkatkan kemampuan pelacakan barang dan merespons gangguan dengan lebih cepat. Karena itu, arus data lintas negara menjadi semakin penting bagi perusahaan yang memiliki jaringan produksi global.
Data OECD menunjukkan global value chains tetap menjadi bagian besar dari perekonomian dunia. Pada 2024, perdagangan yang berkaitan dengan rantai nilai global mencapai sekitar 17 persen dari PDB dunia, menunjukkan bahwa proses produksi masih sangat bergantung pada jaringan lintas negara.
Halaman Selanjutnya
Menurut UNIDO, kapasitas industri di negara-negara berkembang masih menghadapi kesenjangan teknologi. Namun, meningkatnya kapasitas manufaktur di Asia Selatan dan Afrika berpotensi mengubah peta aktivitas industri global dalam beberapa dekade mendatang.






