Nasional

Bukan Lagi Soal Akses, tapi Kedalaman Informasi

×

Bukan Lagi Soal Akses, tapi Kedalaman Informasi

Sebarkan artikel ini


Minggu, 18 Oktober 2026 – 00:51 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan artificial intelligence (AI) dinilai telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi profesi hubungan masyarakat (humas).


img_title


Dari Analisis hingga Deteksi Penipuan, Ini 5 Peran AI dalam Perkembangan Aset Digital

Di era kecerdasan buatan, praktisi humas dituntut menjaga akurasi informasi, etika, dan kepercayaan publik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah pola masyarakat dalam mencari informasi.


img_title


Era AI Makin Canggih, Ini Tantangan Keamanan Digital yang Harus Diwaspadai

Kini, publik dapat memperoleh informasi mengenai kebijakan, kinerja, hingga reputasi organisasi melalui teknologi pencarian berbasis AI tanpa harus berhubungan langsung dengan sumber informasi.

“Sekarang kalau kita lihat kekuatan humas sebetulnya bagaimana kita memproduksi data-data itu menjadi data-data yang trusted,” kata Nezar saat menjadi pembicara kunci dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/10/2026).


img_title


Perusahaan Raksasa AI Buka Kantor di Negara Tetangga RI, Intip Lowongan Kerjanya!

“Namun hari ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi yang langsung berhubungan dengan humas, tapi lewat artificial intelligence,” sambungnya.

Wamenkomdigi menjelaskan, perubahan pola akses informasi tersebut menuntut praktisi humas memastikan data dan informasi resmi organisasi tersedia secara akurat serta dapat dipercaya.

Tantangan komunikasi tidak lagi sebatas menyediakan akses informasi, tetapi juga memastikan publik mendapatkan informasi yang berkualitas dan mendalam.

“Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi akses, tetapi soal kedalaman. Memakai AI saja tidak cukup, yang menentukan adalah kapabilitas dan kebijaksanaan dalam menggunakannya,” ujar Wamenkomdigi.

Nezar menegaskan, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu kerja, bukan pengganti kemampuan berpikir dan tanggung jawab manusia.

Penggunaannya perlu tetap mengedepankan transparansi, etika, dan akuntabilitas, terutama dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.

Kemudahan dalam memproduksi dan menyebarkan informasi juga membuat praktisi humas harus lebih cermat dalam menjalankan tugasnya.

Selain mengikuti perkembangan teknologi, mereka perlu menjaga ketepatan informasi, mematuhi etika profesi, dan mempertahankan kepercayaan publik.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) Boy Kelana menilai kemajuan teknologi komunikasi belum tentu sejalan dengan meningkatnya pemahaman antarmanusia.

Meluasnya akses informasi justru menambah tantangan bagi masyarakat untuk membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.

“Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan,” kata Boy dalam forum yang sama.

Halaman Selanjutnya

Boy menjelaskan, algoritma digital memungkinkan suatu narasi menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik.

Halaman Selanjutnya





Source link