Jumat, 30 Oktober 2026 – 10:02 WIB
Jakarta, VIVA – Kekhawatiran nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp21.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian di tengah meningkatnya sentimen negatif terhadap tata kelola pasar modal Indonesia. Risiko tersebut dinilai perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi kepercayaan investor asing hingga meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri.
Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama otoritas moneter. Meski muncul kekhawatiran mengenai pelemahan kurs ke level ekstrem, bank sentral menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara-negara lain dalam kelompok yang sama.
Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi dinamika pasar, terutama keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing serta persepsi para pelaku pasar.
“Kami di Bank Indonesia kan tugas kami menjaga stabilitas rupiah, dan kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibanding peer group kita. Pergerakan yang sekarang terjadi itu bagian dari fluktuasi karena ini market bebas, sangat tergantung juga dari supply-demand dan persepsi,” ujar Destry selepas acara Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
1. BI Harus Memprioritaskan Stabilitas Rupiah
Langkah pertama yang menjadi perhatian adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar gejolak pasar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Destry menegaskan, BI memiliki komitmen kuat untuk menjaga stabilitas moneter. Menurutnya, kestabilan rupiah menjadi penting agar aktivitas sektor riil tetap berjalan dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
BI juga mengingatkan bahwa pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh kondisi dalam negeri. Faktor eksternal, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed), turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Destry mencontohkan penguatan pasar global setelah The Fed memutuskan tidak menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan.
“Banyak faktor yang di luar kontrol dari kita, seperti hari ini penguatan terjadi di global karena The Fed enggak naikkan suku bunga dan dampaknya langsung positif. Tapi kami di Bank Indonesia punya komitmen yang kuat bahwa fokus kita adalah menjaga stabilitas sebagai yang pertama, supaya sektor riil bisa tumbuh dan membuka lapangan pekerjaan,” kata Destry.
Halaman Selanjutnya
2. Benahi Tata Kelola Pasar Modal agar Investor Asing Tidak Kabur






