Nasional

Tantangan Pendidikan Hijau dan SDGs

×

Tantangan Pendidikan Hijau dan SDGs

Sebarkan artikel ini


Kamis, 6 November 2025 – 11:10 WIB

VIVA – Pohon ditanam, sampah dipilah, dan lomba kebersihan digelar. Hampir setiap sekolah kini berlomba tampil hijau. Spanduk memuat “Sekolah Ramah Lingkungan” bertebaran di mana-mana. Tapi di balik warna hijau yang menghiasi halaman sekolah, muncul pertanyaan sederhana: apakah kesadaran ekologis benar-benar tumbuh di ruang kelas, atau hanya berhenti sebagai simbol di spanduk?

Baca Juga :


5 Fakta Zohran Mamdani, Wali Kota New York Muslim Pertama yang Dimusuhi Donald Trump

Isu pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar jargon global. Ia menjadi cermin peradaban moral, seberapa bijak manusia memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan masa depan bumi. Inilah esesnsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4.7 yang menekankan pentingnya Education for Sustainable Development (ESD) agar setiap peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai untuk menjaga bumi.

Laporan terbaru UNESCO (2025) lewat Greening Curriculum Indicator (GCI) mengungkap fakta yang mencemaskan: dari 110 negara, hanya sekitar separuh yang berhasil mengintegrasikan prinsip-prinsip berkelanjutan secara menyeluruh ke dalam kurikulum nasional. Rata-rata skor GCI global baru 40,2 dari 100, dengan Asia Tengah dan Selatan mencatat nilai tertinggi (47,8) dan Afrika Utara – Asia Barat terendah (29,0).

Baca Juga :


Keluarga Dosen Erni Yuniati Minta Bripda Waldi Dihukum Mati: Keji, Tidak Manusiawi!

Data ini menunjukkan bahwa semangat Education for Sustainable Development (ESD) yang digaungkan sejak UN Transforming Education Summit 2022 belum diimplementasikan secara merata antarnegara, termasuk Indonesia. Di tengah arus kebijakan global dan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ambisius, ada satu hal mendasar yang sering dilupakan: pendidikan hijau.

Pendidikan Hijau: Dari Pengetahuan ke Tindakan

Baca Juga :


ASN Kota Pasuruan Ditangkap Polisi karena Cabuli Keponakan di Probolinggo

Pendidikan hijau seharusnya bukan sekadar pelajaran tambahan tentang lingkungan. Ia adalah proses membangun cara berpikir dan mengambil tindakan yang diinginkan. Sayangnya, banyak program pendidikan lingkungan yang masih terhenti pada tingkat pengetahuan, membuat siswa “tahu”, namun belum “bertindak”.

Penelitian Kudzai Velempini dalam artikel ilmiah Assessing the Role of Environmental Education Practices Towards the Attainment of the 2030 Sustainable Development Goals (2025) yang dimuat di jurnal Sustainability menunjukkan bahwa lebih dari separuh lembaga pendidikan di negara berkembang belum mampu mengintegrasikan prinsip keberlanjutan secara utuh. Pendidikan lingkungan masih berfokus pada teori, bukan pembentukan perilaku dan nilai. Padahal, keberlanjutan tidak akan terwujud jika hanya dipahami, tanpa dihayati dan dipraktikkan.

Halaman Selanjutnya

Pendidikan hijau bisa menjadi pemicu perubahan sosial, menumbuhkan kebiasaan hidup yang lebih peduli pada bumi dan sesama, sebagaimana misi SDG 13 (Penanganan Peubahan Iklim) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan). Tanpa kebijakan yang kuat dan dukungan berkelanjutan, “sekolah hijau” hanya akan menjadi label tanpa makna. Selama pembelajaran masih fokus pada hafalan dan angka ujian, kesadaran ekologis sulit tumbuh.

Halaman Selanjutnya

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.





Source link