Senin, 7 September 2026 – 13:14 WIB
Jakarta, VIVA – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau meluas ke arah barat daya hingga barat laut pada Senin pagi, 7 September 2026.
Kondisi ini membuat abu vulkanik terpantau mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung hingga Bengkulu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu vulkanik tersebut juga meluas ke perairan sekitar hingga Samudra Hindia di sebelah barat wilayah terdampak.
Pelakasana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pergerakan abu vulkanik dipengaruhi pola angin di lapisan atmosfer.
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri.
Pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer, abu vulkanik teramati bergerak hingga wilayah barat daya dan barat laut.
Sementara pada lapisan yang lebih tinggi, yakni hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, sebaran abu terpantau lebih jauh ke Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung dan Banten.
Pergerakan abu vulkanik tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas penerbangan. Hasil paper test yang dilakukan pada pukul 07.00 WIB mengonfirmasi adanya indikasi abu vulkanik di sejumlah bandara.
Kondisi itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan otoritas penerbangan untuk menutup sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.
Kedelapan bandara yang terdampak yakni Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung.
Kemudian Bandara Budiarto di Curug, Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Bandara Atungbusu di Sumatera Selatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meminta masyarakat tidak panik menyikapi penutupan sejumlah bandara tersebut.
“Masyarakat tidak perlu panik. langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” kata Faisal.
BMKG sendiri telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026.
Halaman Selanjutnya
SIGMET terbaru pada 7 September 2026 pukul 06.30–09.30 WIB mencatat abu vulkanik teramati hingga ketinggian 15.000 kaki, bergerak ke arah barat dengan kecepatan 15 knot dan intensitas yang konsisten.






