Selasa, 6 Oktober 2026 – 09:53 WIB
Jakarta, VIVA – Ada cerita personal di balik kebahagiaan John Herdman setelah membawa Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Di tengah euforia mengangkat trofi perdana, pelatih asal Inggris itu justru mengungkap pengalaman pilu yang pernah membayangi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya.
Herdman menyebut keberhasilan bersama Indonesia terasa sangat spesial. Bahkan, ia menilai gelar FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai pencapaian sepak bola terbaik dalam kariernya, meski sebelumnya pernah membawa Timnas Kanada tampil di Piala Dunia 2022.
Indonesia memastikan gelar juara setelah mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti 4-2 pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin, (5/10/26).
Pertandingan berlangsung ketat hingga 120 menit dan berakhir 2-2. Indonesia sempat unggul lewat Dean James, kemudian Thailand menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron.
Thailand bahkan berbalik unggul pada babak tambahan melalui Peeradol Chamrasamee. Namun, Elkan Baggott menjadi penyelamat setelah mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-116.
Laga akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama berhasil menjalankan tugasnya, sedangkan dua eksekutor Thailand, Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya, gagal. Indonesia pun mencatat sejarah sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup.
John Herdman Pernah Bawa Kanada ke Piala Dunia
Menurut John Herdman, kemenangan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar trofi. Sebelum menangani Indonesia, Herdman memiliki pencapaian besar bersama Kanada. Ia membawa negara tersebut lolos ke Piala Dunia 2022, sebuah momen yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sepak bola Kanada.
Herdman mengaku pencapaian tersebut sangat spesial. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Dalam konferensi pers setelah laga final FIFA ASEAN Cup 2026, Herdman mengungkap bahwa tiga minggu setelah Kanada memastikan pencapaian tersebut, saudara perempuannya meninggal dunia.
“Di Kanada, kami baru membangunkan negara melalui pencapaian kami. Itu adalah momen yang spesial. Namun, tiga minggu kemudian saudara perempuan saya meninggal dunia,” kata John Herdman.
Kehilangan tersebut membuat Herdman kesulitan menikmati pencapaian bersama Kanada secara utuh.
Menurutnya, sebuah pencapaian yang seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam karier justru ikut dibayangi rasa kehilangan.
Halaman Selanjutnya
“Jadi, itu adalah momen yang sangat sulit untuk mencoba merayakan sebuah pencapaian besar,” ujarnya.






