Rabu, 28 Oktober 2026 – 02:02 WIB
Jakarta, VIVA – Tasya Farasya harus menghadapi persoalan besar dalam pembangunan rumah mewahnya. Setelah menunggu hunian tersebut rampung, beauty influencer ini justru dihadapkan pada perkiraan biaya perbaikan struktur yang mencapai Rp5 miliar hingga Rp6 miliar. Angka tersebut belum mencakup keseluruhan renovasi rumah yang luasnya diperkirakan mencapai 3.000 meter persegi.
Temuan itu terungkap setelah Tasya meminta kontraktor baru memeriksa kondisi bangunan. Dari pemeriksaan tersebut, muncul sejumlah persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut, termasuk kondisi material dan hasil pengujian mutu beton di beberapa titik. Berikut ini fakta-faktanya.
1. Perbaikan Struktur Rumah Tasya Farasya Capai Rp6 Miliar
Perkiraan biaya sekitar Rp6 miliar menjadi salah satu hal yang paling menyita perhatian dari persoalan rumah Tasya Farasya. Pasalnya, anggaran tersebut belum termasuk kebutuhan renovasi lain yang mungkin muncul setelah pemeriksaan bangunan dilakukan secara menyeluruh.
Rumah dengan luas sekitar 3.000 meter persegi itu diketahui memiliki sejumlah bagian yang perlu dievaluasi. Sebelumnya, Tasya juga memperlihatkan kondisi bangunan yang mengalami keretakan dan mengeluhkan pekerjaan renovasi yang kembali harus dilakukan.
2. Kontraktor Temukan Persoalan Material dan Mutu Beton
Dalam pemeriksaan yang dibagikan Tasya, kontraktor baru menjelaskan bahwa masih ditemukan sisa kayu bekisting di beberapa bagian bangunan. Bekisting merupakan cetakan sementara yang digunakan untuk membentuk beton saat pengecoran. Material ini umumnya dilepas setelah beton cukup mengeras dan proses konstruksi memungkinkan.
Menurut penjelasan kontraktor dalam video tersebut, sebagian kayu yang ditemukan disebut sudah membusuk. Temuan itu menjadi salah satu hal yang diperhatikan ketika kondisi bangunan dievaluasi.
Pemeriksaan juga mencakup mutu beton menggunakan metode pengujian tanpa merusak struktur, termasuk hammer test. Hasil pengujian pada sejumlah titik kemudian dibandingkan dengan dokumen as-built, yakni dokumen yang menggambarkan kondisi bangunan setelah proses pembangunan selesai.
Dokumen yang diperlihatkan mencantumkan mutu beton K-300. Namun, kontraktor menyebut hasil pemeriksaan di beberapa titik tidak seluruhnya sesuai dengan angka tersebut.
“Mutu yang ditulis di situ adalah K-300 ya. Ini beberapa ada yang masuk, ada yang enggak masuk,” ungkap sang kontraktor.
Halaman Selanjutnya
Ia kemudian menunjukkan hasil pengujian pada salah satu titik yang disebut memiliki angka lebih rendah.






