Nasional

Gus Miftah Berharap Muktamar NU ke-35 Jadi Momentum Perkuat Khidmah dan Persatuan

×

Gus Miftah Berharap Muktamar NU ke-35 Jadi Momentum Perkuat Khidmah dan Persatuan

Sebarkan artikel ini


Senin, 10 Agustus 2026 – 23:37 WIB

Jakarta, VIVA – Miftah Maulana Habiburrohman alias Gus Miftah berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, menjadi momentum memperkuat persatuan dan khidmah Nahdliyin.


img_title


Minta Restu Bani Bishri, Gus Salam: NU Besar karena Barokahnya Para Kiai

Menurut Gus Miftah, pemilihan Tambakberas sebagai lokasi Muktamar memiliki makna penting karena kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pemikiran keagamaan dan kebangsaan NU.

“Nahdlatul Ulama itu lahir jauh sebelum Republik ini menjejakkan kakinya di bumi nusantara. Usianya matang, akar sejarahnya menghujam kuat di bilik-bilik pesantren. Pilihan PBNU menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai gelanggang Muktamar ke-35 pada 27–31 Agustus 2026 adalah langkah kembali ke akar sejarah,” katanya kepada wartawan, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.


img_title


Harapan Putri Sulung Gus Dur Terkait Gelaran Muktamar NU

Gus Miftah menyebut Tambakberas merupakan salah satu tempat yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. Karena itu, ia berharap suasana Muktamar tetap mencerminkan tradisi pesantren yang mengedepankan nilai keagamaan, kebangsaan, dan persaudaraan.

“Tambakberas adalah tanah tempat Mbah Wahab Chasbullah memupuk gagasan kebangsaan dan keagamaan yang lentur sekaligus kokoh. Di tempat yang barokah ini, idealnya tidak boleh ada kotoran pragmatisme politik yang merusak udara pesantren,” tuturnya.


img_title


Ma’ruf Amin Wanti-wanti NU: Jangan Rebutan Tambang!

Menurut Gus Miftah, proses pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU merupakan bagian penting dalam perjalanan organisasi. Ia berharap seluruh proses dapat berlangsung secara tertib, bermartabat, dan mengedepankan kepentingan jam’iyah.

Ia menilai NU memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam menjaga nilai keagamaan, kebangsaan, serta kehidupan sosial.

“Bagi pemerintah, NU adalah jangkar. Ia bukan sekadar mitra strategis dalam urusan pembangunan fisik, melainkan penentu arah moral bangsa. Ketika politik elektoral sering kali bising dan mengaburkan nalar, suara dari pesantrenlah yang menjadi pengingat yang jernih. NU adalah tiang utama civil society di Indonesia. Jika tiang ini ikut digoyang oleh syahwat politik kekuasaan, runtuhlah atap moral bangsa ini,” tuturnya.

Gus Miftah berharap seluruh pihak yang terlibat dalam Muktamar dapat menjaga suasana tetap kondusif dan memberikan ruang kepada para peserta untuk menentukan arah organisasi.

Halaman Selanjutnya

Ia menilai kepemimpinan di NU seharusnya dipandang sebagai amanah yang dijalankan dengan semangat pengabdian atau khidmah.

Halaman Selanjutnya





Source link