Rabu, 19 Agustus 2026 – 15:12 WIB
Jakarta, VIVA – Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia turun pada Juli 2026. Inflasi tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,34 persen.
Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan inflasi domestik masih berada dalam sasaran yang ditetapkan Bank Indonesia. Sasaran inflasi pada 2026 dan 2027 dipertahankan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati sejumlah sumber tekanan harga, terutama dari kelompok administered prices dan perkembangan harga komoditas global.
Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Agustus 2026. Dalam rapat tersebut, BI memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen, Deposit Facility 4,75 persen, dan Lending Facility 6,50 persen.
Harga Pertamax Dorong Inflasi Administered Prices
Salah satu perhatian Bank Indonesia dalam perkembangan inflasi Juli adalah kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices (AP).
Inflasi kelompok AP tercatat sebesar 3,58 persen secara tahunan. BI menyebut perkembangan tersebut seiring dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax.
Dengan demikian, meskipun inflasi umum mengalami penurunan dari 3,34 persen menjadi 2,88 persen, komponen harga yang diatur tersebut masih memberikan tekanan terhadap inflasi.
Sementara itu, inflasi inti tetap terjaga di level 2,76 persen secara tahunan. BI menyebut kondisi tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan yang ditempuh bank sentral.
Harga Pangan Justru Melandai
Tekanan inflasi dari kelompok pangan juga menunjukkan perkembangan yang lebih terkendali.
Inflasi volatile food (VF) pada Juli 2026 melambat menjadi 2,52 persen secara tahunan. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh panen sejumlah komoditas hortikultura, terutama aneka cabai dan bawang merah.
Perkembangan inflasi pangan tersebut turut membantu menjaga inflasi IHK tetap berada dalam sasaran BI.
Namun, bank sentral tetap mewaspadai risiko yang dapat muncul dari kondisi cuaca. BI bersama pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) terus memperkuat sinergi dalam pengendalian inflasi pangan, termasuk mengantisipasi risiko gangguan cuaca akibat El Nino.
Perang Timur Tengah Picu Risiko Inflasi Impor
Halaman Selanjutnya
Di luar faktor domestik, Bank Indonesia juga menyoroti risiko tekanan inflasi yang berasal dari perkembangan ekonomi global.






