Sabtu, 5 September 2026 – 01:02 WIB
VIVA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap hasil skrining kesehatan jiwa terhadap dokter yang akan menjalankan tugas, termasuk mereka yang mengikuti program intensif. Hasilnya, sebanyak 7,2 persen dokter memiliki kondisi kesehatan jiwa yang perlu mendapat perhatian dan evaluasi lebih lanjut.
Skrining tersebut dilakukan menggunakan Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), salah satu instrumen yang digunakan untuk melihat kondisi psikologis seseorang.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, skrining dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan kondisi kesehatan jiwa dokter sebelum menjalankan tugas.
“Kita melakukan MMPI. MMPI itu screening untuk kesehatan jiwa dokter-dokter yang akan bertugas. Itu termasuk yang mereka bertugas dalam program intensif,” kata Dante dalam temu media peningkatan mental health awareness di Jakarta, Jumat 4 September 2026.
Berdasarkan hasil skrining, sebanyak 92,8 persen dokter dinilai memiliki kondisi kesehatan mental yang baik. Sementara itu, 7,2 persen lainnya menunjukkan kondisi yang dinilai belum begitu baik sehingga membutuhkan perhatian dan evaluasi.
Temuan tersebut menjadi perhatian Kemenkes, terutama karena tenaga medis menghadapi lingkungan kerja dan pendidikan yang memiliki tuntutan tinggi.
Namun, Dante menilai kondisi kesehatan jiwa dokter tidak bisa serta-merta dikaitkan hanya dengan persoalan perundungan atau bullying.
Menurutnya, tekanan selama menjalani pendidikan kedokteran, termasuk beban pendidikan yang dirasakan terlalu berat, juga dapat menjadi faktor yang perlu dievaluasi.
Karena itu, Kemenkes akan terus mengevaluasi sistem pendidikan kedokteran agar proses pendidikan dapat berlangsung lebih baik dan tidak memberikan tekanan berlebihan kepada peserta didik.
Kemenkes Minta Jangan Buru-buru Sebut Bullying
Dante juga menyoroti berbagai kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental dokter, termasuk kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Ia meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa kasus tersebut disebabkan oleh perundungan sebelum proses investigasi selesai.
“Jangan langsung dihubungkan dengan masalah bullying karena itu belum tentu. Jadi kita jangan menghakimi dulu, kita coba evaluasi yang diinvestigasi kemudian kita akan temukan titik terangnya ada di mana,” katanya.
Menurut Dante, hasil skrining tidak boleh berhenti pada angka atau sekadar menjadi data. Dokter yang menunjukkan kondisi kesehatan jiwa yang membutuhkan perhatian perlu mendapatkan tindak lanjut agar masalah tersebut tidak berkembang menjadi krisis kesehatan jiwa.
Halaman Selanjutnya
Dukungan dari lingkungan pendidikan juga dinilai penting. Dosen pembimbing maupun pemimpin akademik dapat berperan sebagai pendamping bagi peserta didik yang menghadapi tekanan selama pendidikan maupun persoalan lainnya.






