Rabu, 17 Juni 2026 – 13:00 WIB
VIVA – Justin Gaethje sukses menciptakan kejutan besar di UFC Freedom 250 setelah merebut gelar juara kelas ringan UFC sekaligus mengakhiri rekor tak terkalahkan milik Ilia Topuria.
Petarung asal Amerika Serikat itu mengalahkan Topuria dalam pertarungan sengit selama empat ronde. Di akhir ronde keempat, tim Topuria memutuskan menghentikan pertandingan karena kondisi petarung asal Spanyol tersebut sudah mengalami banyak luka dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan laga.
Kemenangan tersebut menjadi pencapaian besar bagi Gaethje. Namun, jalan menuju kemenangan tidak mudah. Pada ronde kedua, ia sempat berada dalam situasi berbahaya setelah dijatuhkan oleh pukulan ke arah tubuh yang membuatnya terlihat kesakitan.
Juara baru kelas ringan UFC,Justin Gaethje.
Pelatih kepala Gaethje, Trevor Wittman, menilai momen tersebut justru menjadi kesalahan terbesar yang dilakukan Topuria.
Menurut Wittman, strategi yang disiapkan tim Gaethje sejak awal adalah memanfaatkan pergerakan kaki untuk menyerang dari luar sambil menghindari area berbahaya yang menjadi kekuatan utama Topuria.
“Rencana permainannya adalah menggunakan gerakan kaki kami, menggunakan kaki yang terbuka untuk menyerang dari luar, juga menggunakan sudut kiri saat kami memberikan tekanan karena ketika dia mulai mundur seperti itu [dengan lengan terentang], itu sangat berbahaya, sangat berbahaya,” kata Wittman dalam wawancara yang dikutip dari kanal YouTube DC MMA.
Ia menjelaskan bahwa Topuria memiliki kemampuan luar biasa dalam melepaskan hook ketika lawannya membuka ruang terlalu lebar.
“Jika Anda membuka diri seperti ini [bergerak ke kiri], dia sangat pandai membuka bahu dan menemukan kaitan. Jadi rencana permainannya adalah menariknya masuk, tidak menggunakan tendangan rendah di awal – seperti tendangan tinggi dan hal-hal seperti itu, hanya untuk membuatnya menghormati dan mencoba mempertahankan tangan kuatnya.”
Wittman juga mengamati adanya perubahan pola pergerakan Topuria ketika mulai kelelahan.
“Di sebagian besar pertarungannya ketika dia kelelahan, dia mulai bergerak dari posisi di sini ke sini [bergerak dari sisi ke sisi]. Begitu dia berada di sini, itu seperti perang jab. Setelah saya melihatnya menggunakan kaki belakang, kami menyesuaikan diri dengan itu,” lanjutnya.
Halaman Selanjutnya
Meski mengakui pukulan tubuh Topuria sempat membuat Gaethje berada dalam masalah besar, Wittman menilai keputusan Topuria untuk mencoba melanjutkan serangan di bawah justru menjadi titik balik yang menguntungkan timnya.






