Senin, 10 November 2025 – 12:10 WIB
Jakarta, VIVA – Bertepatan dengan perayaan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November hari ini, presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Prabowo Subianto. Gelar pahlawan nasional ini diberikan sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025 Tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Tak sendiri ada sembilan nama lainnya juga mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Prabowo Subianto hari ini. Mereka diantaranya Abdurrahman Wahid dari Jawa Timur, Marsinah dari Jawa Timur, Mochtar Kusumaatmaja dari Jawa Barat.. Rahma El Yunusiyyah dari Sumatera Barat. Sarwo Edhie Wibowo dari Jawa Tengah, Sultan Muhammad Salahuddin dari Nusa Tenggara Barat, Syaikhona Muhammad Kholil dari Jawa Timur, . Tuan Rondahaim Saragih dari Sumatera Utara, dan Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara.
Pada proses penetapan Soeharto menjadi pahlawan nasional menuai banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat. Salah satunya yang paling banyak disorot terkait dengan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi di masa pemerintahannya.
Profil Soeharto
Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di desa Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta dari ayah seorang petani bernama Kertosudiro dan ibunya yang merupakan pembantu lurah dalam mengairi persawahan desa bernama Sukirah. Saat baru berusia 40 hari Soeharto dititipkan dan dirawat oleh Kromodiryo alias Mbah Kromo.
Memasuki usia 8 tahun Soeharto menempuh pendidikan SD di Puluhan, Godean. Namun dirinya pindah sekolah ke SD Pedes usai sang ibu dan ayah tirinya pindah ke Kemusuk Kidul. Soeharto juga sempat menempuh pendidikan di Sekolah Rendah (SR) selama empat tahun. Setelah tamat dari SR, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri.
Pada tahun 1935 Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Setamat SMP pada tahun 1938, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, namun terhalang ekonomi.
Lantaran ekonomi, Soeharto sempat mendapat pekerjaan sebagai pembantu klerek/ clerk (pegawai) pada sebuah Bank Desa (Volks Bank di Wuryantoro.
Halaman Selanjutnya
Di tahun 1942 Soeharto kemudian mengikuti ujian masuk Kopral Koninkelijik Nederlandsch – Indische Leger atau KNIL atau tentara kerajaan Belanda setelah resign dari bank desa karena ia tidak menyukai pekerjaan ini.






