Nasional

Sakit Hati Disebut Kampungan, Siswa di Kupang Tikam Guru Saat Tidur

×

Sakit Hati Disebut Kampungan, Siswa di Kupang Tikam Guru Saat Tidur

Sebarkan artikel ini


Sabtu, 15 Agustus 2026 – 04:20 WIB

Jakarta, VIVA – Polisi mengungkap alasan siswa berinisial A (16) menikam gurunya, Soleman Malo alias Eman (27), di asrama SMK Pelayaran, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).


img_title


Punya Waktu Terbatas? Ini Strategi Main Game Minecraft Java Edition agar Satu Jam Tetap Menghasilkan Banyak Progres

Kepada penyidik, A mengaku melakukan aksi tersebut karena sakit hati setelah berulang kali disebut kampungan oleh Eman. Ucapan korban juga menyinggung orang tua serta kampung halaman A di Alor.

“Pelaku sering disebut kampungan, singgung orang tua dan kampung halamannya di Alor sehingga hal itu membuatnya sakit hati,” ungkap Kapolsek Kota Lama AKP Zainal Arifin Abdurahman, Jumat 14 Agustus 2026.


img_title


Iran Klaim Kendalikan Selat Hormuz, Kapal Komersial Tak Bisa Melintas Tanpa Izin

Ucapan tersebut membuat A memendam amarah hingga akhirnya menyerang Eman ketika korban sedang tidur di salah satu kamar asrama sekolah pada Rabu 12 Agustus 2026 malam.

A mendatangi kamar korban dengan menutupi wajahnya menggunakan kaus olahraga.


img_title


3 Smartwatch Terbaik 2026 di Bawah Rp1 Juta: Tampil Mewah, Fitur Pintar Lengkap, dan Baterai Awet

Ia sempat mengetuk pintu kamar sambil memanggil Eman beberapa kali. Setelah itu, A mendobrak pintu dan menyerang guru mata pelajaran Bahasa Inggris tersebut dengan pisau.

Serangan itu menyebabkan Eman mengalami sejumlah luka.

Luka robek terdapat pada bagian atas kepala dan membuat korban harus menjalani 11 jahitan. Selain itu, terdapat luka robek di bagian kiri kepala yang membutuhkan 13 jahitan.

Arifin menjelaskan A baru sekitar dua tahun menetap di Kota Kupang. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP di Kabupaten Alor, A meneruskan sekolah di SMK Pelayaran Lasiana dengan mengambil jurusan Nautika Kapal Niaga.

Selama bersekolah, A tidak tinggal di asrama bersama sebagian teman satu angkatannya. Ia memilih menetap di sebuah rumah kos di Jalan Anggrek, Bimoku, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima.

“Pelaku mengaku kalau ia dan beberapa rekannya sudah lama memendam rasa sakit hati akibat perkataan korban yang sering merendahkan mereka,” terang Arifin.

Penyidik hingga kini masih mendalami kasus penikaman tersebut. Polisi telah meminta keterangan dari sejumlah pihak, termasuk siswa, guru, A, serta Eman.

A sendiri telah mengakui perbuatannya kepada polisi. Namun, senjata yang digunakan untuk menikam korban belum ditemukan. 

Polisi masih mencari pisau tersebut karena A disebut membuangnya setelah melarikan diri dari lokasi kejadian.

Halaman Selanjutnya

“Tetapi pisau yang digunakan untuk menikam korban, itu kami masih cari karena setelah kejadian pelaku kabur dan membuangnya,” pungkas Arifin.

Halaman Selanjutnya





Source link