Senin, 24 Agustus 2026 – 11:06 WIB
VIVA – Pengamat sepak bola Edwin Setyadinata blak-blakan membahas kualitas pemain naturalisasi Timnas Indonesia. Menurutnya, Indonesia memang butuh pemain diaspora untuk meningkatkan level tim, tetapi mayoritas pemain yang didapat belum masuk kategori grade A.
Dalam podcast Tiki Taka Milanesia di YouTube NLR Sports, Edwin menjelaskan kebutuhan naturalisasi muncul karena Timnas Indonesia harus menghadapi persaingan yang semakin berat pada babak Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kehadiran pemain naturalisasi dinilai bisa menjadi tambahan kekuatan agar skuad mampu bersaing di level tersebut.
Namun, Edwin menyebut pemain nturalisasi yang benar-benar berada di kategori grade A sulit didapatkan Indonesia. Menurutnya, pemain level tersebut cenderung memilih negara dengan kompetisi yang lebih besar untuk mengembangkan karier.
Pengamat sepak bola Edwin Setyadinata
“Memang kita perlu diaspora atau naturalisasi untuk boosting level kualitas Timnas. Nah, cuma gini, dapatnya itu bukan grade A. Kalau grade A itu kayaknya udah enggak mungkin kita bisa dapat,” kata Edwin.
“Karena grade A itu pasti memilih negara yang kompetisinya besar. Tijjani Reijnders itu grade A. Yang kita dapat adiknya, Eliano,” lanjutnya.
Edwin menyebut sebagian besar pemain diaspora Indonesia berada di kategori grade 3. Meski begitu, ia menilai ada beberapa pemain yang levelnya lebih tinggi, seperti Kevin Diks, Jay Idzes, Emil Audero dan Calvin Verdonk.
Menurut Edwin, persoalan kemudian muncul ketika pemain diaspora mengalami penurunan performa atau kesulitan mendapatkan menit bermain di klub. Cedera dan persaingan dengan pemain baru di posisi yang sama dapat membuat seorang pemain kehilangan tempat.
“Sejago-jagonya pemain diaspora itu, itu kan mereka manusia. Mereka tuh bisa performanya menurun sebenarnya,” katanya.
Ia juga menyinggung Ole Romeny dan Marselino Ferdinan. Edwin meminta performa keduanya tidak hanya dinilai berdasarkan penampilan ketika sedang berada dalam kondisi terbaik.
Marselino Ferdinan dan Ole Romeny
Menurutnya, pemain yang kehilangan ritme pertandingan di klub juga bisa mengalami masalah ketika kembali memperkuat Timnas. Ia mencontohkan Marselino yang menurutnya kehilangan sentuhan dan match rhythm ketika dimainkan.
“(Marselino) Begitu diturunin, touch-nya hilang, match rhythm-nya hilang,” ujar Edwin.
Halaman Selanjutnya
Selain performa pemain, Edwin menyoroti persoalan yang lebih besar, yakni minimnya kedalaman pemain berkualitas Indonesia. Menurutnya, Skuad Garuda seharusnya memiliki banyak pilihan sehingga ketika satu pemain mengalami penurunan performa, pelatih bisa menggantinya dengan pemain lain.






