Jumat, 28 Agustus 2026 – 17:48 WIB
VIVA – Nilai ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), batubara, dan paduan besi (ferro alloy) Indonesia mencapai sekitar USD66,13 miliar atau setara Rp1.171,49 triliun. Besarnya nilai perdagangan tersebut turut mendorong penguatan pengawasan terhadap transaksi ekspor sumber daya alam (SDA).
Dari 20 komoditas eksportir terbesar Indonesia, sebanyak 16 komoditas merupakan SDA yang belum berbentuk produk jadi. Pengawasan menjadi perhatian karena aktivitas ekspor SDA masih menghadapi persoalan seperti under invoicing dan transfer pricing.
Dalam upaya tersebut, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjalankan peran dalam penguatan pengawasan ekspor. Perusahaan ini mengembangkan platform digital berbasis data untuk memantau transaksi dari berbagai sisi, mulai dari harga hingga pembayaran.
Peneliti Nagara Institute, Edi Sewandono, mengatakan terdapat kesenjangan antara besarnya kontribusi ekspor Indonesia dengan penerimaan keuangan negara. Sebelum adanya PT DSI, eksportir dapat berhubungan langsung dengan pembeli asing yang membuat proses pembayaran berlangsung tanpa satu mekanisme agregasi.
“Kehadiran ini membuka peluang membangun mekanisme yang lebih terintegrasi dalam mengawasi harga, volume, pembayaran, dan tujuan ekspor,” ungkapnya dalam Round Table Discussion (RTD) Nagara Institute-Akbar Faizal Uncensored (AFU), sebagaimana dikutip dari keterangannya, Jumat, 28 Agustus 2026.
![]()
Menurut Edi, integrasi tersebut membutuhkan infrastruktur data, keuangan, dan mekanisme pengawasan yang mampu mengurangi asimetri informasi. Ia juga mengusulkan agar fungsi perdagangan tidak seluruhnya menjadi beban DSI karena mekanisme trading membutuhkan modal kerja yang sangat besar.
Pemerintah, menurutnya, dapat memanfaatkan perusahaan perdagangan yang telah eksis, sementara fungsi pemantauan dan pengawasan transaksi tetap dijalankan melalui mekanisme tersendiri.
“Pendekatan itu dinilai dapat menjaga tujuan reformasi tanpa menempatkan negara pada risiko pendanaan dan perdagangan komoditas,” tuturnya.
Edi juga mendorong penggunaan konsultan independen dan teknologi untuk mengevaluasi ekspor komoditas. Lembaga seperti SGS, Sucofindo, atau Surveyor Indonesia dapat membantu memastikan kualitas dan kuantitas komoditas sesuai dokumen perdagangan.
Teknologi berbasis kecerdasan artifisial atau AI juga dinilai dapat memperkuat objektivitas pemeriksaan serta mendeteksi potensi penyimpangan sejak awal.
Lebih lanjut, Managing Director Business 3 Danantara Asset Management, Febriany Eddy, mengatakan platform digital yang dikembangkan tersebut memiliki delapan mesin analitik. Sistem itu mencakup harga, kuantitas, kualitas, afiliasi, pengiriman, data negara tujuan, serta penerimaan.
Halaman Selanjutnya
Seluruh sistem dirancang untuk merekonsiliasi alur dokumen, alur fisik, hingga alur pembayaran secara end to end. Platform fase pertama telah dirilis, sementara pengembangan masih dilakukan secara bertahap.






