Jumat, 4 September 2026 – 21:30 WIB
VIVA – Memasuki usia 7 hingga 12 tahun, anak mulai menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar. Selain mengikuti pelajaran di sekolah, mereka juga dituntut mampu berkonsentrasi, mengingat informasi, serta menjalani beragam aktivitas akademis maupun non-akademis.
Pada fase tersebut, pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan orang tua. Asupan makanan yang seimbang dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang, termasuk fungsi otak anak.
Tantangannya, memasuki usia sekolah anak biasanya mulai memiliki preferensi makanan dan minuman yang semakin kuat. Mereka tidak selalu mudah menerima semua jenis makanan yang disiapkan orang tua, termasuk susu dengan rasa tertentu.
Penelitian Universitas Gadjah Mada (2015) terhadap siswa SD dan SMP di Purbalingga, misalnya, menunjukkan adanya kecenderungan penolakan terhadap susu plain. Penolakan tersebut tercatat pada 53 persen siswa SD dan 39,5 persen siswa SMP.
Sementara itu, studi Universitas Negeri Surabaya (2016) menemukan bahwa rasa cokelat menjadi salah satu varian yang paling disukai dalam kelompok siswa sekolah dasar yang diteliti, dengan persentase mencapai 52,7 persen.
Preferensi rasa tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Sebab, anak cenderung lebih tertarik mengonsumsi makanan atau minuman yang sesuai dengan selera mereka, sementara orang tua tetap perlu memastikan kebutuhan nutrisi hariannya terpenuhi.
DHA dan Perannya bagi Perkembangan Otak
Salah satu nutrisi yang penting diperhatikan adalah Docosahexaenoic Acid (DHA), salah satu jenis asam lemak omega-3 yang terdapat dalam jaringan otak dan retina.
DHA berperan dalam struktur dan fungsi sel, termasuk pada jaringan otak. Karena itu, kecukupan asupan DHA menjadi bagian dari pola makan yang perlu diperhatikan selama masa pertumbuhan anak.
Namun, pemenuhan asupan asam lemak omega-3 pada anak Indonesia masih menjadi perhatian. Studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada 2016 melaporkan bahwa 8 dari 10 anak Indonesia berusia 4–12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah standar minimum yang direkomendasikan FAO/WHO.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya orang tua memerhatikan variasi makanan anak, termasuk sumber lemak sehat yang mengandung omega-3. Kebutuhan nutrisi sebaiknya dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, membangun kebiasaan makan sehat juga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Orang tua dapat memperkenalkan berbagai pilihan makanan secara bertahap, tanpa mengabaikan selera anak.






