Kamis, 15 Oktober 2026 – 02:30 WIB
Jakarta, VIVA – Kemarahan publik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kian memuncak. Pernyataan sejumlah gubernur yang dinilai mengecilkan dampak kebakaran menuai kecaman, termasuk dari YouTuber Jerome Polin dan aktris Audi Marissa. Keduanya geram karena kondisi yang disebut aman justru berbanding terbalik dengan keluhan warga yang harus menghirup asap dan mengkhawatirkan kesehatan mereka.
Sorotan muncul setelah sejumlah kepala daerah di Kalimantan menyampaikan tanggapan terkait penanganan karhutla. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, misalnya, sempat melontarkan seloroh ketika dimintai komentar mengenai persoalan tersebut.
“Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ujar Sabran.
Pernyataan itu menjadi perhatian di tengah persoalan karhutla yang masih dikeluhkan masyarakat. Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyebut kebakaran hutan di wilayahnya aman terkendali.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin juga ikut menjadi sorotan setelah menyebut kondisi karhutla di lokasi yang ditinjaunya ternyata tidak parah.
Pernyataan para gubernur tersebut memicu kritik karena dianggap tidak menggambarkan sepenuhnya situasi yang dihadapi warga. Dampak asap terhadap aktivitas sehari-hari dan kesehatan masyarakat menjadi salah satu persoalan yang disorot.
YouTuber sekaligus kreator konten pendidikan, Jerome Polin Sijabat, termasuk yang menyampaikan kritik keras. Melalui akun Threads @jeromepolin, Jerome mempertanyakan sikap pejabat yang menyebut kondisi Kalimantan masih baik-baik saja dan belum layak ditetapkan sebagai bencana nasional.
“Pejabat kalimantan yang bilang kalimantan masih baik baik aja, belom layak jadi bencana nasional dll,” tulis Jerome, dikutip Kamis (15/10/2026).
Jerome menduga pernyataan tersebut muncul karena para pejabat tidak merasakan langsung penderitaan masyarakat yang terdampak. Ia menilai kondisi warga di lapangan semestinya menjadi pertimbangan utama dalam menyampaikan pernyataan terkait bencana.
“Mereka bisa bilang gitu ya karena mereka kabur, mereka gak tinggal di sana. Gak merasakan penderitaannya,” lanjutnya.
Tak berhenti di situ, Jerome juga menyinggung kemungkinan adanya perbedaan kondisi antara kehidupan para pejabat dan masyarakat yang terpapar asap. Menurutnya, situasi warga tidak bisa dianggap baik-baik saja hanya karena tidak dirasakan langsung oleh para pemangku kebijakan.
Halaman Selanjutnya
“Yang tinggal di sana pun mungkin sehari2 pake tabung oksigen, bejibun air purifier, dll. Udah nirempati, inkompeten, jahat pula,” tulis Jerome.






