Jumat, 16 Oktober 2026 – 14:41 WIB
Jakarta, VIVA – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, dan CEO Danantara Rosan Roeslani langsung mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026) siang.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah gejolak pasar saham Indonesia menyusul rencana evaluasi status pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Pada saat yang sama, otoritas bursa sedang menyiapkan langkah untuk meminta penjelasan kepada MSCI.
Penyedia indeks saham global itu membuka konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Hingga saat ini, status pasar Indonesia belum resmi berubah. Meski demikian, pengumuman MSCI menyoroti sejumlah persoalan di pasar modal domestik, terutama transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
Tekanan di pasar saham tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (16/10), IHSG anjlok 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233,00.
Sebelumnya, perdagangan saham sempat dihentikan sementara atau mengalami trading halt selama 30 menit pada awal sesi. Penghentian dilakukan setelah IHSG merosot 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92.
Penurunan tajam tersebut terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas proposal perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan masukan mengenai proposal reklasifikasi Indeks Indonesia hingga 30 April 2027. Keputusan terkait usulan tersebut akan diumumkan sebelum 30 Juni 2027.
MSCI menyebut kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemampuan investasi di pasar modal Indonesia meningkat secara signifikan. Kekhawatiran itu mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham yang masih berlangsung serta dugaan adanya perilaku perdagangan terkoordinasi.
Meski otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah agenda reformasi, MSCI menilai implementasinya harus berjalan konsisten. Selain itu, diperlukan bukti dampak material yang berkelanjutan dari berbagai langkah reformasi tersebut.
Di tengah tekanan pasar, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengimbau investor agar tetap rasional dalam mengambil keputusan investasi.
Investor diminta mempertimbangkan fundamental pasar dan perusahaan serta mengutamakan orientasi investasi jangka panjang.
Halaman Selanjutnya
“Sekali lagi buat investor, ya, bertindak secara rasional, jangan ikut-ikutan, jangan jual atau beli karena pergerakan jual atau beli benar-benar karena fundamental dari market, fundamental dari perusahaan,” kata Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi kepada wartawan.






