Selasa, 27 Oktober 2026 – 21:42 WIB
Jakarta, VIVA – Anggapan bahwa perempuan lebih emosional daripada laki-laki sudah lama berkembang di masyarakat. Perempuan kerap dianggap sulit mengendalikan perasaan karena pengaruh hormon, sedangkan laki-laki sering dipandang lebih rasional. Namun, penelitian menunjukkan bahwa perbedaan emosi antara kedua gender tidak sesederhana anggapan tersebut.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada 2021 meneliti 142 laki-laki dan perempuan selama 75 hari. Penelitian itu melibatkan perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral maupun perempuan yang mengalami siklus menstruasi secara alami.
Hasilnya menunjukkan bahwa laki-laki mengalami fluktuasi emosi dengan tingkat yang kurang lebih serupa dengan perempuan. Temuan ini menantang stereotip bahwa perempuan secara alami memiliki emosi yang lebih tidak stabil.
Cara Mengekspresikan Emosi Dipengaruhi Lingkungan
Perbedaan yang terlihat antara laki-laki dan perempuan tidak selalu terletak pada seberapa kuat emosi yang dirasakan, tetapi juga pada cara mereka diajarkan untuk mengekspresikannya.
Sejak kecil, perempuan cenderung lebih diberi ruang untuk membicarakan perasaan, menangis ketika sedih, atau meminta bantuan saat menghadapi masalah. Namun, ketika menunjukkan kemarahan, mereka justru berisiko mendapat penilaian negatif, baik dalam kehidupan sosial maupun lingkungan kerja.
Sebaliknya, laki-laki sering dibesarkan dengan anggapan bahwa kemarahan merupakan bentuk emosi yang lebih dapat diterima. Mereka juga bisa mendapat tekanan sosial ketika menunjukkan kesedihan atau kerentanan karena dianggap tidak sesuai dengan gambaran maskulinitas.
Akibatnya, sebagian laki-laki memilih memendam perasaan. Padahal, emosi yang tidak diungkapkan tidak serta-merta menghilang dan dapat memengaruhi perilaku jika tidak dikelola dengan baik.
Mengapa Cara Mengelola Emosi Penting?
Perempuan yang terbiasa membicarakan dan memproses perasaan dinilai dapat memiliki keunggulan dalam beberapa aspek kecerdasan emosional. Sementara itu, sebagian laki-laki mungkin lebih sulit mengenali atau mengungkapkan emosi akibat tekanan sosial yang mereka hadapi.
Dijelaskan juga bahwa emosi yang ditekan dapat muncul dalam bentuk perilaku berisiko, seperti mengemudi secara agresif, penyalahgunaan zat, hingga tindakan kekerasan. Meski demikian, perilaku tersebut tidak berlaku bagi semua laki-laki, dan perempuan pun dapat melakukan tindakan agresif atau kekerasan.
Halaman Selanjutnya
Karena itu, penting untuk tidak menyamaratakan kemampuan mengendalikan emosi berdasarkan gender. Cara seseorang bereaksi juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan, pola asuh, serta keterampilan mengelola perasaan.






