Nasional

Rupiah Terancam Betah di Atas Rp18.000 hingga Akhir 2026, Dolar AS Makin Perkasa

×

Rupiah Terancam Betah di Atas Rp18.000 hingga Akhir 2026, Dolar AS Makin Perkasa

Sebarkan artikel ini


Selasa, 3 November 2026 – 15:39 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menghadapi tekanan berat menjelang penghujung 2026. Mata uang Garuda diperkirakan sulit kembali menguat secara signifikan dan berpotensi bertahan di atas level Rp18.000 per dolar AS hingga akhir tahun.


img_title


Kilas Balik Rupiah Melemah Sepanjang Oktober 2026, Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan pergerakan pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional. Mulai dari meningkatnya biaya impor, tekanan inflasi, kenaikan harga energi, hingga berkurangnya daya beli masyarakat.

Dalam proyeksi pergerakannya, rupiah berpotensi berada di kisaran Rp18.000-Rp18.100 per dolar AS sepanjang kuartal IV 2026. Bahkan, terdapat skenario pelemahan yang membawa nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.350 per dolar AS pada akhir tahun.


img_title


IHSG Anjlok ke 5.057, Banyak Emiten Berguguran Sore Ini

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor, baik dari eksternal maupun domestik. Salah satunya adalah tingginya suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Kebijakan suku bunga AS yang masih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Kondisi ini berpotensi mendorong pergerakan modal ke pasar keuangan Amerika Serikat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.


img_title


Rupiah Dibayangi Ancaman Rp21.000 per Dolar AS, Ini 4 Hal yang Harus Segera Dibenahi

Selain itu, tingginya harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, arus keluar modal asing atau capital outflow turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia, termasuk imbas sentimen dari laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Rupiah Sulit Kembali ke Level Rp17.000

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berbagai instrumen moneter dapat digunakan untuk mengendalikan volatilitas sekaligus mencegah pelemahan mata uang Garuda semakin dalam.

Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah fasilitas lindung nilai atau hedging melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah menjaga stabilitas pasar valuta asing di tengah tingginya ketidakpastian global. Dengan intervensi dan kebijakan yang dilakukan, pelemahan rupiah diharapkan dapat tertahan pada level tertentu.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, ruang penguatan rupiah menuju kisaran Rp17.000 per dolar AS diperkirakan masih terbatas. Sebaliknya, pelemahan hingga menembus Rp18.200 per dolar AS juga menjadi risiko yang perlu dicermati apabila tekanan eksternal semakin besar.

Halaman Selanjutnya





Source link