Minggu, 23 Agustus 2026 – 11:53 WIB
VIVA – Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) mengungkapkan lonjakan ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kawasan Asia Pasifik.
Pemanfaatan AI kini mengubah peta serangan siber dari yang semula membutuhkan tim khusus menjadi operasi independen berbiaya murah, cepat, dan sulit dideteksi.
SilverFox menjadi salah satu kelompok Advanced Persistent Threat (APT) paling aktif di Asia Pasifik. Mereka menyusup ke target menggunakan serangan multi-tahap melalui email phishing, situs web palsu, dan pesan instan.
– Modus Baru: Membagikan aplikasi Claude AI palsu (Windows, macOS, Linux) untuk meretas jaringan perusahaan, serta menyebarkan email phishing berkedok surat teguran pajak resmi.
– Target Utama: China mendominasi target serangan (90%), disusul Myanmar, Kamboja, dan Singapura. Sektor industri yang paling banyak diserang adalah manufaktur (30%+), diikuti sektor IT, layanan publik, kesehatan, dan keuangan.
Pakar keamanan Kaspersky membeberkan tiga contoh nyata bagaimana AI digunakan sebagai senjata utama penjahat siber:
– JADEPUFFER (Ransomware Berbasis AI Pertama): Agen AI ini mampu menganalisis kegagalan, memperbaiki metode, dan meluncurkan serangan baru secara mandiri hanya dalam kurun 31 detik tanpa campur tangan manusia.
– ChatGPhish (Prompt Injection): Menyembunyikan perintah jahat di halaman web. Saat pengguna meminta AI tepercaya (seperti ChatGPT) untuk meringkas web tersebut, AI secara tidak sadar ikut memproses instruksi atau tautan berbahaya kepada pengguna.
– VoidLink (Malware Hasil AI): Kerangka kerja malware berbasis cloud yang dikembangkan hampir sepenuhnya oleh AI. Hal ini membuktikan bahwa pembuatan malware canggih kini makin mudah dilakukan tanpa latar belakang teknis yang mendalam.
4 Langkah Antisipasi Perusahaan (AI vs AI)
Untuk mengimbangi ancaman yang bergerak serba cepat, Kaspersky menyarankan perusahaan mengubah strategi pertahanan jaringan melalui langkah berikut:
– Pertahanan Proaktif: Menggunakan AI untuk threat hunting guna menemukan ancaman tersembunyi sejak dini.
– Arsitektur Zero Trust: Memverifikasi setiap permintaan akses jaringan internal secara ketat tanpa pengecualian.
– Pertahanan Sistematis: Mengamankan seluruh lini bisnis secara menyeluruh (endpoint, jaringan, aplikasi, dan data).
– Adopsi AI vs AI: Memanfaatkan model AI skala besar untuk mendeteksi dan merespons serangan secara real-time.
AI Search Jadi Titik Baru Perebutan Perhatian Konsumen Indonesia
Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara konsumen Indonesia mencari informasi, mengenali merek, hingga mempertimbangkan produk sebelum membeli. Begini caranya.
VIVA.co.id
23 Agustus 2026






