Nasional

Badan Geologi ESDM Waspadai Potensi Likuefaksi dari Gempa NTT, Ini Pertandanya

×

Badan Geologi ESDM Waspadai Potensi Likuefaksi dari Gempa NTT, Ini Pertandanya

Sebarkan artikel ini


Sabtu, 15 Agustus 2026 – 22:40 WIB

Jakarta, VIVA Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi Gempa magnitudo 7,7 dan kedalaman 15 kilometer di NTT, memunculkan bahaya ikutan yang perlu diwaspadai. Yakni mulai dari gerakan tanah, hingga likuefaksi.


img_title


BMKG: Gempa Magnitudo 6,4 di Simalungun Tidak Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria menjelaskan, indikasi ini berdasarkan foto-foto dokumentasi dari lapangan, yang memperlihatkan dampak guncangan di lapangan.

Dimana hal itu menunjukkan adanya retakan dinding, kerusakan komponen bangunan, hingga keruntuhan sebagian struktur, serta laporan adanya air yang keluar dari tanah.


img_title


Sampaikan Duka atas Gempa NTT, Waka DPD RI Minta Seluruh Pihak Berkoordinasi dengan Baik

“Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi,” kata Lana, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Peta Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia

Photo :

  • Badan Geologi Kementerian ESDM


img_title


BNPB: Total Korban Jiwa Gempa Bumi M 7,7 Capai 47 Orang hingga Sabtu Malam

Di Waekokak–Mbay, kata Lana, dilaporkan adanya air yang keluar dari tanah setelah gempa. Sementara di Bonea, Selayar, teramati adanya tsunami kecil.

Atas laporan tersebut, Badan Geologi melakukan analisis cepat terhadap kemungkinan terjadinya likuefaksi. Hasil awalnya menunjukkan adanya peluang likuefaksi, berdasarkan hubungan antara jarak dari sumber gempa dan kekuatan gempanya.

Dampaknya diperkirakan lebih signifikan pada wilayah yang lebih dekat dengan sumber, khususnya pada area dataran aluvium seperti sebagian wilayah Nagekeo.

“Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan,” ujar Lana.

Secara khusus, Lana menyoroti laporan keluarnya air dari dalam tanah beberapa saat setelah gempa di Waekokak–Mbay. Awalnya, fenomena ini diperkirakan dapat berkaitan dengan likuefaksi dalam bentuk sand boil, atau semburan air berpasir dan berlumpur.

Dari indikasi awal, dampak terhadap tanah pondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang dan tidak menunjukkan karakter seperti kejadian likuefaksi tipe Palu yang dapat bergerak jauh.

“Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, kata Lana, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke lokasi terdampak.

Tim akan melakukan kaji cepat untuk memverifikasi kondisi lapangan, memperdalam analisis, serta menyusun rekomendasi teknis mitigasi.

Halaman Selanjutnya

“Hasil penyelidikan ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya





Source link