Rabu, 12 Agustus 2026 – 19:10 WIB
VIVA – Keinginan mengikuti lari maraton semakin banyak diminati, termasuk oleh orang yang sebelumnya tidak terbiasa mengikuti kompetisi lari. Namun, sebelum menentukan target jarak, ada satu hal yang kerap menjadi pertanyaan, yakni apakah pelari perlu rutin melakukan latihan di gym terlebih dahulu?
Bagi sebagian orang, latihan lari saja mungkin dianggap sudah cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi perlombaan. Padahal, ternyata latihan kekuatan atau strength training memiliki peran penting dalam menunjang kemampuan tubuh saat berlari, terutama ketika seseorang mulai mempersiapkan diri untuk jarak yang lebih jauh.
Kenapa Pelari Perlu Strength Training?
Latihan kekuatan bukan semata-mata bertujuan membentuk otot. Dalam olahraga lari, latihan tersebut dapat membantu memperkuat bagian tubuh yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan mendukung gerakan ketika berlari.
Ada sejumlah otot yang tidak selalu mendapatkan stimulus optimal hanya dari aktivitas sehari-hari maupun latihan lari. Karena itu, latihan kekuatan dapat menjadi pelengkap agar tubuh lebih siap menghadapi beban latihan.
“Strength itu sangat penting, maksudnya dia meng-support olahraga-olahraga kita,” ujar Coach Valast, Direktur Program Campaign SGIM 2026.
Ia menambahkan bahwa beberapa otot kecil juga memiliki fungsi untuk menopang kerja otot yang lebih besar. Jika bagian tersebut tidak dilatih dengan baik, kemampuan tubuh dalam mempertahankan gerakan ketika berlari dalam waktu lama bisa ikut terpengaruh.
Dengan demikian, latihan gym untuk pelari bukan berarti harus berfokus pada pembentukan otot besar seperti seorang binaragawan. Jenis latihan dan intensitasnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan olahraga yang dijalani.
Bukan Berarti Harus Rajin Gym Setiap Hari
Meski strength training dinilai penting, bukan berarti calon pelari marathon harus menghabiskan banyak waktu di gym setiap hari. Latihan justru perlu disusun secara terukur dan menjadi bagian dari keseluruhan program persiapan.
Persiapan maraton membutuhkan waktu yang cukup panjang. Pelari perlu membangun kemampuan secara bertahap sebelum tubuh siap menghadapi jarak puluhan kilometer.
“Misalnya, saya mau melakukan maraton, jika kita melakukan maraton, seminimal itu, mungkin, 3-4 sampai 5 bulan dulu,” jelasnya.
Halaman Selanjutnya
Artinya, persiapan marathon sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak. Selain meningkatkan jarak tempuh secara bertahap, pelari juga perlu memperhatikan latihan pendukung, pemulihan, serta kemampuan tubuh dalam menerima beban.






