Jumat, 9 Oktober 2026 – 22:00 WIB
Jakarta, VIVA – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena El Nino yang menguat dengan cepat berpotensi memecahkan rekor suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Kondisi ini meningkatkan risiko panas ekstrem, kekeringan, hingga banjir di berbagai wilayah dunia di tengah kenaikan suhu global.
Dalam laporan Global Seasonal Climate Update atau Iklim Musiman Global Terkini, badan meteorologi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut memperkirakan El Nino hampir pasti, dengan probabilitas mendekati 100 persen, akan bertahan hingga Februari 2027. Puncak fenomena ini diperkirakan terjadi sekitar Desember 2026.
“El Nino telah terbentuk dengan kuat dan menguat dengan cepat,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, dikutip pada Jumat (9/10/2026).
Ia memperingatkan, bahwa fenomena itu berpotensi menjadi salah satu yang terkuat setidaknya sejak 1950. WMO juga memperkirakan anomali suhu permukaan laut rata-rata di wilayah Nino 3,4, yang berada di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius di atas normal selama periode Oktober hingga Desember 2026. Angka tersebut berpotensi menjadi rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai.
Sebagai perbandingan, rekor sebelumnya tercatat sebesar 2,6 derajat Celsius di atas normal pada periode November 2015 hingga Januari 2016. Jika perkiraan terbaru tersebut terwujud, penguatan El Nino kali ini akan melampaui anomali suhu laut yang tercatat pada periode tersebut.
WMO menyatakan fenomena ini berpotensi mendorong suhu di atas rata-rata di sebagian besar wilayah dunia sekaligus mengubah pola curah hujan secara signifikan. Dampaknya tidak hanya berupa peningkatan suhu, tetapi juga perubahan distribusi hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kawasan.
Kondisi yang lebih basah dari biasanya diperkirakan terjadi di kawasan Tanduk Besar Afrika, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur, bagian utara Semenanjung Arab, sebagian Amerika Utara, serta wilayah tenggara Amerika Selatan.
Sebaliknya, kondisi yang lebih kering dari biasanya diprediksi melanda anak benua India, bagian selatan Amerika Tengah, sebagian wilayah Karibia, dan bagian barat laut Amerika Selatan. Perbedaan pola cuaca tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, sementara kawasan lain menghadapi ancaman hujan berlebih dan banjir.
Halaman Selanjutnya
Saulo menjelaskan bahwa El Nino tidak menciptakan panas tambahan kepada planet ini, melainkan melepaskan panas yang sebelumnya tersimpan di lautan. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi laut saat ini menjadi perhatian serius karena lautan merupakan sumber panas bagi fenomena tersebut.






