Sabtu, 13 Juni 2026 – 15:47 WIB
Jakarta, VIVA – PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS) menilai, penguatan tata kelola sumber daya alam (SDA), hilirisasi industri, dan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE), menunjukkan semangat nasionalisme ekonomi yang semakin kuat pada arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Direktur PEDAS, Anthony Leong, mengatakan, kebijakan tersebut sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo mengenai pentingnya nasionalisme dalam pembangunan ekonomi.
“Mengutip pemikiran sosiolog ekonomi Liah Greenfeld dalam buku The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth, di situ dijelaskan bahwa kemajuan ekonomi modern tidak lahir secara kebetulan, melainkan tumbuh dari kemampuan suatu bangsa memperjuangkan kepentingan ekonominya sendiri,” kata Anthony dalam keterangannya, Sabtu, 13 Juni 2026.
Caketum BPP Hipmi, Anthony Leong
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa hampir seluruh negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi besar membangun kemajuannya di atas fondasi nasionalisme ekonomi yang kuat. Yakni termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok.
“Nasionalisme ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia internasional. Nasionalisme ekonomi adalah memastikan bahwa kekayaan nasional, devisa nasional, dan sumber daya strategis nasional dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Inilah yang sedang dibangun pemerintah Presiden Prabowo saat ini,” ujarnya.
PEDAS mencatat, komoditas yang masuk dalam tahap awal skema tata kelola ekspor strategis, yakni batu bara, kelapa sawit (CPO), dan ferroalloy, memiliki nilai ekspor lebih dari US$66 miliar per tahun atau sekitar seperempat dari total ekspor nasional.
Nilai ekonomi yang sangat besar tersebut menunjukkan betapa strategisnya kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah, dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global.
Menurutnya, Indonesia saat ini justru sedang memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang melalui kebijakan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperbesar penerimaan negara, serta memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional.
“Pertanyaannya bukan apakah ada pihak yang berbeda pandangan terhadap kebijakan pemerintah. Dalam ekonomi politik itu hal yang biasa,” kata Anthony.
“Yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut memperkuat kepentingan nasional Indonesia, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperbesar manfaat ekonomi dari kekayaan alam yang kita miliki. Dalam konteks itulah kebijakan ini harus dinilai,” ujarnya.
Indonesia-Afrika Selatan Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Bidik Berbagai Peluang di Tengah Gejolak Global
KJRI Cape Town bersama ITPC Johannesburg menggelar Indonesia–South Africa Business Networking Session sebagai upaya penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.
VIVA.co.id
13 Juni 2026






