Nasional

PHK Menghantui Industri Tekstil hingga Sepatu, Ternyata Ini Biang Keroknya

×

PHK Menghantui Industri Tekstil hingga Sepatu, Ternyata Ini Biang Keroknya

Sebarkan artikel ini


Rabu, 14 Oktober 2026 – 04:10 WIB

Jakarta, VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi industri di Indonesia. Sepanjang Januari hingga September 2026, sebanyak 63.789 pekerja melaporkan terkena PHK melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). 


img_title


Baru Kena PHK, Apakah Masih Bisa Dapat BSU 2026 Rp900 Ribu? Ini Penjelasannya

Industri tekstil, garmen, dan sepatu menjadi sektor yang turut menghadapi tekanan, terutama perusahaan yang mengandalkan pasar ekspor.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menilai tekanan terhadap industri tersebut tidak bisa dilepaskan dari perlambatan permintaan pasar internasional dan meningkatnya biaya produksi. 


img_title


Sejumlah Perusahaan Tekstil Bakal Diakuisisi BUMN, Menperin: Investasi Danantara Cukup Besar

Kondisi ini membuat perusahaan menghadapi tantangan dalam mempertahankan kegiatan usaha sekaligus menekan pengeluaran.

Dalam jumpa pers secara daring di Jakarta, Selasa (13/10/2026), Iqbal menjelaskan bahwa penurunan permintaan dari pasar global berdampak pada perusahaan berorientasi ekspor, termasuk yang bergerak di industri tekstil, garmen, dan alas kaki.


img_title


200 Ribu Orang di AS Kehilangan Pekerjaan Akibat AI Sejak 2023

“Saya jumpai, kenapa perusahaan tekstil, garmen, sepatu, ini paling banyak tutup, itu yang orientasi ekspor, yang banyak tutup. Kenapa dia turun? Karena permintaan barang di pasar internasional menurun. Karena pasar internasional melambat, maka permintaan ke Indonesia juga menurun,” ujarnya.

Permintaan Ekspor Melemah, Biaya Produksi Meningkat

Penurunan permintaan dari pasar internasional menjadi salah satu persoalan yang dihadapi perusahaan yang mengandalkan ekspor. Ketika pesanan dari luar negeri berkurang, kegiatan produksi berpotensi ikut melambat. Situasi tersebut dapat memengaruhi kebutuhan tenaga kerja dan mendorong perusahaan melakukan efisiensi.

Selain permintaan yang melemah, perusahaan juga menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi. Iqbal menyoroti kenaikan sejumlah komponen pengeluaran, mulai dari bahan baku, gas industri, bahan bakar minyak (BBM), hingga biaya logistik.

“Kalau ongkos produksi meningkat, dilakukanlah efisiensi dari produksi dengan cara mengurangi karyawan, sehingga biaya produksi, labor cost, menurun,” kata Iqbal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap industri tidak hanya berkaitan dengan upah pekerja. Kemampuan perusahaan menghadapi kenaikan biaya dan mempertahankan pesanan juga menjadi faktor yang memengaruhi keberlangsungan usaha.

Iqbal turut menyinggung pengaruh kondisi perekonomian dan geopolitik dunia terhadap industri yang berorientasi ekspor. Ketidakpastian global dan perlambatan pasar internasional dapat memengaruhi permintaan produk dari Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Laporan PHK Capai 63.789 Pekerja

Halaman Selanjutnya





Source link