Sabtu, 3 Oktober 2026 – 01:16 WIB
Jakarta, VIVA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan mengakui pemikiran Presiden Prabowo Subianto menjadi hal yang lebih sulit ditangkap dan dipahami oleh publik.
Padahal, kata dia, selama ini program pemerintah relatif mudah dilihat masyarakat.
“Yang paling susah ditangkap oleh rakyat itu adalah pikiran Presiden. Program oke, kemudian orang melihatnya, tapi pikiran (sulit ditangkap oleh masyarakat),” kata Syahganda di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat, 2 Oktober 2026.
Dia menilai pemikiran Prabowo merupakan gagasan yang bersifat konstitusional sehingga penting untuk dikomunikasikan agar dapat dipahami masyarakat.
“Nah, pikiran-pikiran beliau itu adalah pikiran-pikiran konstitusional. Dan itu penting sampai rakyat tahu semua,” ujarnya.
Maka itu, Syahganda mengatakan dirinya bersama Wakil Kepala Bakom Fadli Hartono akan melanjutkan program-program yang telah berjalan sebelumnya.
Syahganda mengatakan Bakom akan memperkuat komunikasi dengan media dan wartawan.
Dia ingin membangun dialog yang lebih intensif agar pesan pemerintah dapat tersampaikan kepada masyarakat, sekaligus aspirasi masyarakat dapat diteruskan kepada pemerintah.
“Itu tentu kita harus banyak ketemu teman-teman media, teman-teman wartawan.
Bagaimana dialog antara pemerintah dan teman-teman media itu bisa pada akhirnya menyampaikan pesan-pesan pemerintah kepada masyarakat, dan pesan-pesan masyarakat kembali kepada pemerintah,” tuturnya.
“Jadi, ada dialog yang intensif nantinya,” sambung Syahganda.
Selain itu, keduanya akan mempelajari perkembangan algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan pengaruhnya terhadap komunikasi pemerintah dengan masyarakat.
“Pertama, meneruskan program-program yang sudah ada. Yang kedua, kita akan mempelajari soal algoritma,” katanya.
Menurut Syahganda, perkembangan algoritma dan AI menjadi salah satu tantangan dalam komunikasi.
Karena itu, Bakom berencana membentuk tim khusus yang mempelajari dampak algoritma terhadap penyampaian pesan Presiden kepada masyarakat.
“Kita akan masuk juga ke sana. Mungkin kita akan mengembangkan satu kelompok atau tim khusus mempelajari bagaimana algoritma itu bisa merusak atau memberi jarak antara pikiran-pikiran Presiden dengan masyarakat,” tuturnya.
Dia mengatakan upaya tersebut tidak akan hanya mengandalkan peran media massa. Bakom juga akan memikirkan pola komunikasi di tengah perubahan teknologi digital.
“Jadi, selain dibantu oleh teman-teman media, kita juga memikirkan itu ke depan,” katanya.
Halaman Selanjutnya
Syahganda menilai komunikasi dan narasi memiliki peran penting dalam perkembangan suatu bangsa. Karena itu, menurut dia, keberadaan Bakom berkaitan dengan upaya membangun komunikasi yang dapat menjembatani pemerintah dan masyarakat.






