Nasional

Tak Hanya Nikel! Indonesia Siapkan Diversifikasi Hilirisasi Mineral Kritis

×

Tak Hanya Nikel! Indonesia Siapkan Diversifikasi Hilirisasi Mineral Kritis

Sebarkan artikel ini


Jumat, 6 November 2026 – 16:19 WIB

Jakarta, VIVA – Pemerintah menyiapkan pengembangan rantai industri mineral kritis yang lebih beragam dengan mendorong hilirisasi bauksit, tembaga, dan timah di luar nikel. Hal ini diungkap Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yan Abrar kepada awak media, Jmuat (6/11/2026).


img_title


Sidang Putusan Eks Ketua Ombudsman soal Korupsi Tambang Nikel Digelar Hari Ini

Bahkan kata dia, strategi ini diarahkan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri masa depan sekaligus meningkatkan nilai tambah mineral melalui pengolahan, pengembangan material maju, hingga manufaktur.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Indonesia memiliki basis sumber daya mineral yang beragam untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan industri masa depan. Pengembangan tersebut perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga pada penguatan rantai pengolahan dan pemanfaatan mineral di dalam negeri.


img_title


Kejagung Periksa Pejabat ESDM terkait Dugaan Korupsi Tambang Batu Bara PT CCM

“Bauksit, tembaga, dan timah merupakan sejumlah komoditas yang memiliki peluang untuk memperkuat portofolio industri mineral nasional. Pengembangan komoditas tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik sumber daya, kebutuhan pasar, kesiapan teknologi, dan kelayakan ekonomi,” jelasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan materi Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), produksi mineral Indonesia hingga September 2026 mencakup 23,43 juta ton bijih bauksit, 114,9 juta ton bijih tembaga, dan 57,24 ribu ton bijih timah. Sementara itu, produksi bijih nikel tercatat mencapai 225,3 juta ton.


img_title


Bahlil Tegaskan Pentingnya Hilirisasi, MIND ID Tunjukkan Manfaat Mineral di Minerba Convex 2026

Keragaman basis produksi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri mineral yang tidak hanya bertumpu pada nikel.

Bauksit dapat menjadi bahan baku industri alumina dan aluminium yang dibutuhkan sektor konstruksi, kelistrikan, dan manufaktur. Tembaga berperan penting dalam pengembangan jaringan listrik, infrastruktur energi, dan perangkat elektronik. Adapun timah dibutuhkan dalam industri elektronik dan berbagai produk manufaktur.

Peluang pengembangan tersebut semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, energi terbarukan, jaringan listrik, pusat data, dan industri elektronik.

Menjelang 2030, perkembangan sektor-sektor tersebut diperkirakan mendorong permintaan berbagai jenis mineral dengan spesifikasi dan kualitas tertentu.

Menurut Yan, peningkatan kebutuhan global perlu direspons dengan memperkuat daya saing industri mineral nasional. Hal itu dilakukan melalui peningkatan volume produksi tambang, serta penguatan kualitas cadangan, pengembangan produk, ketersediaan energi, kesiapan infrastruktur, dan efisiensi logistik.

Halaman Selanjutnya

“Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah mendorong hilirisasi yang terintegrasi dari kegiatan pertambangan hingga pengembangan material maju dan manufaktur. Dengan pendekatan ini, mineral yang dihasilkan Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan memenuhi kebutuhan industry,” ucapnya.

Halaman Selanjutnya





Source link