Senin, 24 Agustus 2026 – 17:28 WIB
Jakarta, VIVA – Transmigrasi kini diarahkan memasuki babak baru. Kementerian Transmigrasi tidak lagi menempatkan program tersebut sebatas sebagai upaya memindahkan penduduk, tetapi menjadikannya bagian dari strategi membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan perubahan paradigma tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Transmigration Executive Dialogue: Strategic Lecture & Policy Forum yang digelar di Artotel Mangkuluhur, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.
Dalam forum yang menghadirkan Profesor Soner Baskaya, ekonom dari Adam Smith Business School, University of Glasgow, Inggris, Iftitah menyebut transmigrasi kini mulai dibawa dari persoalan domestik menuju pembahasan yang lebih luas di tingkat global.
Transmigrasi Tak Lagi Sekadar Memindahkan Penduduk
Menurut Iftitah, perubahan pendekatan transmigrasi diperlukan untuk menjawab tantangan ekonomi dan geopolitik dunia, termasuk persoalan pangan, ketahanan pangan, perubahan iklim, serta kebutuhan menciptakan pekerjaan yang lebih produktif.
Ia menekankan, pola lama berupa penempatan penduduk terlebih dahulu kemudian mencari peluang ekonomi sudah harus ditinggalkan.
Kini, pemerintah ingin membalik urutan tersebut. Potensi ekonomi dipetakan lebih dulu, kemudian industri dan investasi dikembangkan, lapangan kerja disiapkan, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan, sebelum masyarakat ditempatkan secara sukarela dan memiliki kepastian terhadap masa depannya.
“Kalau dulu tempatkan dulu, baru kemudian kita lihat ada peluang atau tidak untuk kesejahteraan yang lebih baik. Itu dulu. Nah, kalau sekarang, cari dulu potensi ekonominya, kemudian bangun industrinya, siapkan lapangan pekerjaannya, kemudian pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, baru penempatan,” kata Iftitah.
Konsep tersebut juga dibahas dalam pertemuannya dengan Profesor Baskaya. Menurut Iftitah, sang ekonom melihat transmigrasi sebagai program yang tepat dengan kondisi saat ini karena berkaitan dengan kebutuhan ekonomi global dan perubahan rantai pasok.
Lima Program Jadi Dasar Transformasi
Kementerian Transmigrasi saat ini menjalankan lima program unggulan yang menjadi bagian dari perubahan paradigma tersebut, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusantara, dan Trans Gotong Royong.
Trans Tuntas diarahkan untuk memastikan kepastian dan pemanfaatan lahan secara produktif. Pemerintah ingin mengakhiri paradigma pembagian lahan semata dan mendorong pemanfaatan lahan secara kolaboratif untuk kegiatan ekonomi.
Halaman Selanjutnya
Iftitah menyebut lahan transmigrasi kini tidak hanya memiliki potensi pertanian, tetapi juga pertambangan, pariwisata, hingga berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Ia juga menyinggung adanya lahan transmigrasi yang pernah digarap pihak swasta secara ilegal dan disebut merugikan negara hingga Rp6,9 triliun.






