Senin, 24 Agustus 2026 – 18:33 WIB
Flores, VIVA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat terdampak gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak termakan isu atau informasi hoaks mengenai tsunami susulan. Imbauan tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers perkembangan penanganan gempa Flores pada Senin, 24 Agustus 2026.
Suharyanto menegaskan, masyarakat memang masih diliputi rasa takut akibat gempa susulan yang terus terjadi hingga hari kedelapan. Namun, ia meminta warga mempercayai informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bukan kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Suharyanto, selama delapan hari setelah gempa utama, tidak ada satu pun gempa susulan yang kekuatannya melebihi gempa utama.
“Seandainya mereka ingin mengungsi, sebaiknya mengungsi ke tempat atau titik-titik pengungsian yang sudah terpusat, yang sudah ada di masing-masing desa, masing-masing kecamatan, dan masing-masing kabupaten,” kata Suharyanto.
6.409 Gempa Susulan Terjadi hingga Hari Kedelapan
Berdasarkan laporan BMKG yang diterima BNPB, hingga Senin pagi tercatat sebanyak 6.409 kali gempa di wilayah Flores. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Dari jumlah tersebut, terdapat 33 gempa dengan kekuatan magnitudo 5 atau lebih. Sementara itu, sebanyak 139 gempa susulan tercatat dirasakan oleh masyarakat.
Aktivitas tersebut membuat sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah meskipun tempat tinggal mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan.
Namun, BNPB menyebut aktivitas kegempaan dalam dua hari terakhir mulai menunjukkan penurunan. Dalam 24 jam terakhir, hanya terdapat satu gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
Menurut penjelasan BMKG, kondisi kegempaan masih dapat berlangsung hingga tiga atau empat minggu ke depan sebelum situasinya semakin stabil.
Isu Tsunami Picu Pengungsian Mandiri
Suharyanto mengatakan banyaknya gempa susulan dan rasa takut masyarakat turut menyebabkan munculnya titik-titik pengungsian mandiri di berbagai wilayah Flores.
Sebagian masyarakat memilih mendirikan tenda di sekitar rumah, sementara sebagian lainnya bahkan mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut diperparah dengan beredarnya isu mengenai kemungkinan tsunami susulan.
BNPB menegaskan informasi tersebut tidak benar. Suharyanto meminta masyarakat mengikuti perkembangan gempa berdasarkan informasi resmi yang disampaikan BMKG setiap hari.
Halaman Selanjutnya
“Ini juga kami suarakan, supaya masyarakat tidak percaya kepada isu hoaks yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.






