Sabtu, 7 November 2026 – 23:20 WIB
Jakarta, VIVA- Kekeringan berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai berdampak terhadap industri kendaraan listrik global. Kondisi cuaca ekstrem tersebut membuat sejumlah fasilitas pengolahan nikel harus mengurangi kapasitas produksi, sehingga berpotensi mengganggu pasokan bahan baku baterai mobil listrik, terutama bagi industri di China.
Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok nikel dunia. Sebagai produsen nikel terbesar, Indonesia memasok bahan baku penting yang digunakan untuk memproduksi baterai lithium-ion. Sebagian besar industri pengolahan nikel di Tanah Air juga mendapatkan investasi dari perusahaan asal China.
Namun, ketergantungan industri tersebut terhadap ketersediaan air menjadi persoalan ketika curah hujan mengalami penurunan drastis. Salah satu teknologi pengolahan nikel yang terdampak adalah High Pressure Acid Leaching (HPAL), yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memproses bijih nikel menjadi bahan baku baterai.
Dampaknya mulai dirasakan oleh sejumlah perusahaan. Nickel Industries, perusahaan berbasis di Sydney yang mengoperasikan fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah, dilaporkan harus memangkas kapasitas operasional salah satu pabrik pengolahan asamnya.
Dalam laporan perusahaan, fasilitas tersebut kini hanya beroperasi pada kapasitas sekitar 30 persen. Angka itu turun dibandingkan kondisi sebelumnya yang masih mampu berjalan pada kapasitas 50 persen.
Nickel Industries juga mengungkapkan bahwa keterbatasan air berpotensi dialami fasilitas pengolahan nikel lainnya yang menggunakan infrastruktur bersama. Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan mulai mempertimbangkan langkah serupa, termasuk mengurangi tingkat produksi.
Situasi ini menjadi perhatian karena Indonesia memasok lebih dari separuh kebutuhan nikel dunia. Gangguan produksi di dalam negeri berpotensi memberikan efek berantai terhadap industri baterai, khususnya di China yang memiliki peran dominan dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Dikutip VIVA dari SCMP, Sabtu (7/11/2026), lembaga analisis pasar CRU Group memperingatkan bahwa penurunan produksi nikel dapat menambah ketidakstabilan rantai pasok material baterai.
CRU Group bahkan merevisi proyeksi produksi nikel yang digunakan untuk bahan baku Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Untuk semester kedua tahun ini, produksinya diperkirakan hanya mencapai sekitar 370.000 ton, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 400.000 ton.
Halaman Selanjutnya
Ancaman tersebut semakin besar seiring fenomena El Nino yang memperburuk kondisi kekeringan di Indonesia. Sementara itu, China saat ini menguasai sekitar 80 persen kapasitas produksi baterai kendaraan listrik dunia berdasarkan data International Energy Agency (IEA).






