Nasional

Hidup Serba Kekurangan, Tinggal di Bawah Tenda hingga Kena Stroke

×

Hidup Serba Kekurangan, Tinggal di Bawah Tenda hingga Kena Stroke

Sebarkan artikel ini


Minggu, 4 Oktober 2026 – 08:26 WIB

Manado, VIVA – Menjalani kehidupan setelah memeluk Islam ternyata tidak selalu mudah bagi setiap mualaf. Hal itu dirasakan Mike Lohige, perempuan berusia sekitar 50 tahun asal Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang menjalani kehidupan penuh keterbatasan di Kota Manado.


img_title


Kisah Mualaf Bella, Sempat Tanya Bukankah Muslim Teroris? Endingnya Sekeluarga Masuk Islam

Mike diketahui memeluk Islam pada 2019. Namun, perjalanan hidupnya setelah menjadi mualaf justru diwarnai berbagai persoalan. Ia bersama suaminya pernah bertahun-tahun tinggal di bawah tenda di kawasan Mapanget, Manado, dengan kondisi yang jauh dari kata layak.

Kisah Mike kemudian diketahui oleh seorang ustaz di Manado yang memang kerap membantu masyarakat kurang mampu. Informasi tersebut akhirnya sampai kepada Tim Mualaf Center Aya Sofya yang kemudian mendatangi kediaman Mike untuk melihat langsung kondisinya.


img_title


Kisah Mualaf Samanta Elsener Adik Darius Sinathrya, Sempat Khatam Alkitab Hingga Ketemu Buku Tentang Nabi Muhammad

Temuan di lapangan membuat tim tersebut prihatin. Mike dan keluarganya disebut telah sekitar tiga tahun bertahan hidup di bawah tenda, menghadapi panas dan hujan setiap hari.

Tinggal di Tanah Milik Bank, Kapan Saja Bisa Terusir


img_title


Cerita Willie Salim yang Sunat di Usia 24 Tahun Hingga Soal Status Mualaf: Bukan Takut Lagi, Sampai Gak Bisa Tidur

Persoalan tempat tinggal menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Mike. Tenda yang selama ini menjadi tempat berteduh berdiri di atas lahan yang disebut merupakan milik salah satu bank nasional.

Artinya, Mike dan keluarganya tidak memiliki kepastian untuk terus tinggal di tempat tersebut. Sewaktu-waktu mereka bisa diminta meninggalkan lahan yang selama ini menjadi tempat berlindung.

Kondisi lingkungan sekitar juga membuat situasi mereka semakin berbeda. Mike dan keluarganya disebut tinggal di kawasan yang mayoritas penduduknya bukan Muslim dan tidak memiliki tetangga Muslim di sekitar tempat tinggalnya.

Melihat kondisi tersebut, Tim Mualaf Center kemudian berupaya memberikan tempat tinggal yang lebih layak. Sebuah rumah permanen berbahan kayu dengan ukuran sekitar 5 x 6 meter dibangun untuk Mike dan keluarganya. Rumah tersebut dibuat dengan struktur panggung.

Meski masih sederhana, rumah itu diharapkan dapat memberikan perlindungan dari panas dan hujan sembari menunggu adanya bantuan lebih lanjut dari masyarakat yang ingin membantu.

Mualaf Mike Lohige Kena Stroke hingga Kesulitan Berobat

Persoalan Mike tidak berhenti pada tempat tinggal. Belakangan, kondisi kesehatannya juga mengalami penurunan. Mike dikabarkan mengalami stroke ringan. Kondisi tersebut membuat kemampuan bicaranya terganggu dan kakinya terasa berat ketika digunakan untuk berjalan.

Halaman Selanjutnya

Keinginan untuk mendapatkan pengobatan secara menyeluruh terkendala kondisi ekonomi. Karena keterbatasan biaya, akses layanan kesehatan kemudian diupayakan melalui BPJS Kesehatan.

Halaman Selanjutnya





Source link