Kamis, 10 September 2026 – 02:39 WIB
VIVA – Program sosial yang dikaitkan dengan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, menjadi perhatian setelah muncul pertanyaan dari publik mengenai sumber dana yang digunakan.
Ketua Masyarakat Pecinta Polisi Indonesia (MPPI), Zandre Badak, menegaskan sejumlah program sosial tersebut tidak menggunakan anggaran negara. Menurut dia, program seperti Umroh Presisi hingga bedah rumah disebut bersumber dari dana pribadi Kapolri.
Penjelasan itu disampaikan Zandre di tengah keberangkatan Heni Yawati (58) atau Bi Heni, seorang Asisten Rumah Tangga (ART) asal Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, ke Tanah Suci.
Bi Heni menjadi salah satu penerima manfaat Program Umroh Presisi. Ia akhirnya bisa melihat Ka’bah di Mekkah dan berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah setelah puluhan tahun menyimpan keinginan untuk beribadah ke Tanah Suci.
Zandre mengatakan, pertanyaan mengenai sumber pendanaan program tersebut sempat muncul di kalangan netizen. Ia kemudian memberikan penegasan terkait hal tersebut.
“Banyak netizen bertanya, ‘Uangnya dari mana? Pakai APBN ya?’ Saya tegaskan di sini. Baik Program Bedah Rumah, Umroh Gratis Presisi, Ziarah Holyland Presisi, hingga Pembangunan Mushola Presisi, semuanya murni menggunakan uang pribadi Bapak Kapolri. Sama sekali tidak menggunakan uang Negara,” tegas Zandre dalam keterangannya, dikutip Kamis 10 September 2026.
![]()
Menurut Zandre, perhatian terhadap masyarakat melalui berbagai program tersebut juga telah berlangsung dalam sejumlah kesempatan. Ia mengaku melihat langsung bentuk kepedulian tersebut, baik kepada masyarakat maupun anggota Polri.
“Saya saksi hidup menyaksikan kepedulian Bapak Listyo Sigit Prabowo. Sudah tidak terhitung baik masyarakat maupun anggota Polri yang dibantu beliau. Pantas kalau Ust. Zaini dan Bu Itoh menyebut Pak Kapolri sebagai ‘Malaikat Penolong’ yang hadir untuk mereka,” lanjutnya.
Sementara itu, kisah Bi Heni menjadi salah satu cerita yang mengiringi pelaksanaan Program Umroh Presisi. Perempuan yang lahir pada 17 Agustus 1968 itu mengaku telah memendam keinginan pergi ke Mekkah selama bertahun-tahun.
Kondisi ekonomi membuat impian tersebut terasa sulit diwujudkan. Sejak kecil, Bi Heni bahkan sudah ikut menopang kebutuhan keluarganya dengan menafkahi adik-adiknya. Ia juga kemudian merawat suaminya yang menderita batu ginjal dan harus menjalani cuci darah secara rutin.
Halaman Selanjutnya
Di tengah kehidupan yang penuh keterbatasan, Bi Heni tetap menyimpan harapan untuk bisa melihat Tanah Suci. Ia mengaku rutin menjalankan puasa Senin-Kamis dan salat tahajud sambil memanjatkan doa tersebut.






