Selasa, 16 Juni 2026 – 07:41 WIB
Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan dirinya mengalami insiden tidak menyenangkan ketika menghadiri forum diskusi bersama mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin 15 Juni 2026 malam.
Forum tersebut turut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.
Sudaryono mengaku ada yang memukul hingga melempar air di tengah forum yang berlangsung di kawasan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” kata Sudaryono dalam keterangan resmi, Selasa 16 Juni 2026.
Sudaryono menjelaskan acara diskusi tersebut bukan agenda mendadak, melainkan telah dipersiapkan sebelumnya dan memperoleh izin dari pihak kampus. Menurut dia, diskusi awalnya berlangsung normal dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan maupun kritik.
“Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis,” ujarnya.
Ia mengatakan sesi diskusi sempat berlangsung selama sekitar 30 hingga 40 menit. Namun situasi berubah ketika muncul sekelompok peserta yang ingin agar kegiatan dihentikan.
“Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog,” kata Sudaryono.
Meski kondisi mulai memanas, Sudaryono mengaku tetap berada di lokasi bersama Nusron Wahid karena menilai dialog merupakan cara terbaik untuk menjembatani perbedaan pendapat. Akan tetapi, setelah terjadi pelemparan air dan dugaan aksi fisik, aparat keamanan meminta para narasumber meninggalkan area diskusi demi keselamatan.
Terkait tudingan bahwa dirinya meninggalkan lokasi untuk menghindari pertanyaan mahasiswa, Sudaryono membantah keras anggapan tersebut. Ia menegaskan kehadirannya sejak awal memang untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa.
“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya.
Halaman Selanjutnya
Setelah forum utama terhenti, dialog disebut tetap berlangsung secara informal. Dalam kesempatan itu, mahasiswa menyampaikan berbagai kritik terkait persoalan agraria dan dugaan penggusuran di sejumlah wilayah.






