Nasional

Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.948 seiring Tekanan Ekonomi Global Imbas Lonjakan Harga Minyak

×

Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.948 seiring Tekanan Ekonomi Global Imbas Lonjakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini


Senin, 28 September 2026 – 09:13 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.


img_title


Kembangkan Program Berbasis Lokal, Pertamina Patra Niaga Dorong Perempuan Berdaya

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.917 pada Jumat, 25 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 19 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.898 pada perdagangan Kamis, 24 September 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 28 September 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.948 per dolar AS. Posisi itu melemah 45 poin atau 0,25 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.903 per dolar AS.


img_title


10 HP Rp1 Jutaan September 2026 Masih Menarik, Ini Pilihan yang Bisa Dipertimbangkan

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ekonomi global dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak. Lembaga keuangan global, International Monetar Fund (IMF), mengingatkan semua pemangku kepentingan dunia akan kondisi ekonomi global yang bakal semakin tertekan.


img_title


HP Galaxy A55 vs Xiaomi 14T, Adu Kamera, Layar dan Performa: Mana yang Cocok untuk Dipakai Jangka Panjang?

“Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari 2026,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 28 September 2026.

Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga, guna mengendalikan kenaikan harga. Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. 

Peningkatan beban bunga utang berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.

Guna meredam kondisi tersebut, maka Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia melakukan kolaborasi fiskal dan moneter guna untuk meredam pelemahan mata uang rupiah.

Pertama, melalui optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kedua adalah penguatan Sektor Eksternal menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows). 

Ketiga, pengelolaan Likuiditas Perekonomian adalah memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, termasuk merespons dinamika perebutan dana yang memicu kenaikan beban biaya dana (cost of fund).

Keempat yakni pengendalian Inflasi dengan memperkuat koordinasi penanganan inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID). Kelima, pendalaman Pasar Keuangan yakni mempercepat pendalaman pasar uang demi memperlancar transmisi kebijakan serta memperluas basis pembiayaan pertumbuhan ekonomi.

Halaman Selanjutnya

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.910-Rp 18.000,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya





Source link