
loading…
Presiden Rusia Vladimir Putin ingin menguasai Afrika. Foto/X
5 Strategi Putin Menguasai Afrika, Biarkan Pemimpin Benua Hitam Itu Memainkan Strateginya
1. Tidak Akan Menerapkan Pendekatan Kolonial seperti Barat
Saat menjadi tuan rumah KTT Rusia-Afrika ketiga di Moskow pekan ini, Presiden Vladimir Putin menggambarkan Rusia sebagai mitra yang lebih baik bagi Afrika dibandingkan dengan Barat. Ia menuduh Barat mengeksploitasi sumber daya benua tersebut, mempertahankan pendekatan kolonial, dan menggunakan utang untuk menghambat pembangunan. Menurutnya, Rusia menawarkan model kerja sama yang berbeda—model yang memungkinkan kedua belah pihak untuk meraih kemakmuran melalui hubungan yang lebih erat di bidang perdagangan dan teknologi.
“Dunia usaha kami tidak terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang bersifat predator atau neokolonial,” ujar Putin, seraya menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Rusia turut mendukung penciptaan lapangan kerja lokal serta pendapatan pajak.
Delegasi dari 48 negara Afrika—dari total 54 negara—menghadiri pertemuan selama dua hari tersebut. Menurut ajudan Kremlin, Yury Ushakov, 22 negara diwakili oleh kepala negara; angka ini meningkat dibandingkan 17 negara pada KTT tahun 2023, namun lebih rendah daripada 43 negara pada pertemuan pertama tahun 2019.
Kehadiran yang mencolok ini membantu Moskow melawan isolasi internasional yang kian mendalam di tengah tekanan sanksi dari negara-negara Barat.
2. Tidak Terjebak dalam Satu Kubu
Will Brown, seorang pakar kebijakan Afrika di European Council on Foreign Relations, berpendapat bahwa citra Putin yang bersanding dengan para pemimpin Afrika mungkin jauh lebih penting daripada kesepakatan apa pun yang dicapai dalam KTT tersebut. Hal ini dikarenakan citra tersebut dapat digunakan kembali oleh jaringan pengaruh Rusia untuk membentuk persepsi di seluruh Afrika maupun wilayah Global Selatan lainnya. “‘Narasi’ dari pertemuan puncak ini adalah hal yang paling penting,” ujar Brown kepada CNN.
Namun, pemerintah negara-negara Afrika tidak sekadar memilih antara Moskow dan Barat. Tighisti Amare, direktur Program Afrika di Chatham House, menyebut pendekatan mereka sebagai “non-blok yang terdiversifikasi”: menjaga hubungan dengan berbagai mitra alih-alih berkomitmen pada satu kubu saja.
Menurutnya, alasan mereka pun beragam. Beberapa negara mencari dukungan keamanan, sementara yang lain menginginkan pasokan pertanian, investasi energi, atau dukungan diplomatik. Brown menambahkan bahwa banyak pemerintah juga memanfaatkan persaingan internasional sebagai strategi untuk meminimalkan risiko sekaligus mendapatkan penawaran yang lebih baik dari mitra-mitra Barat.
3. Menggunakan Pendekatan Militer
Rusia telah memperkuat posisinya di Mali, Burkina Faso, dan Niger—negara-negara yang pemerintahannya dipimpin oleh militer dan beralih ke Moskow untuk mendapatkan dukungan militer setelah memutuskan hubungan dengan mitra-mitra Barat.
Peran militer Rusia berkembang melalui Africa Corps, sebuah organisasi paramiliter yang mengambil alih sebagian besar tugas kelompok tentara bayaran Wagner setelah kelompok tersebut melakukan pemberontakan terhadap Kremlin pada tahun 2023.






